Sungguh, Terorisme Sangat Diperlukan

 

Jendral Khalid Ibnu Al Walid

Dikatakan bahwa perbuatan teror itu lahir dari ketidakadilan dan perlakuan tiran, dia merupakan reaksi ketika manusia itu mengalami semacam pemaksaan. Sebagian menyebutkan bahwa perbuatan ini merupakan faktor psikologis dalam tabiat manusia yang mengeluarkannya dari neraca kewajaran menuju sikap ekstrim dan sikap-sikap tertenu, dan pengertian ini semua tidak ada nilainya dari sisi politis atau syari’at, padahal politik memerlukan jenis tertentu dari teror, dan syariat juga mengakui teror dan bahkan mendorongnya.

Terorisme adalah perbuatan yang dihasilkan karena tuntutan keadaan dan tidak ada kaitannya dengan faktor psikologis atau bentuk sebuah reaksi. Terorisme dalam pengertian bahasa maknanya berkisar antara menakut-nakuti atau menyebarkan rasa takut. Dan hal ini memiliki sebab yang sangat banyak, baik yang disyariatkan atau tidak. Meneror musuh dan menakut-nakuti mereka adalah perbuatan terpuji dan disyariatkan, sedangkan menakut-nakuti kaum muslimin dan meneror mereka adalah perbuatan tercela dan haram.

Terorisme adalah perangkat politis dan syar’iat untuk merealisasikan maslahat atau mencegah mafsadat. Semua umat bangga dengan para teroris masing-masing dan memandang mereka dengan pandangan penuh kebanggaan dan hormat. Semua orang yang bisa membungkam musuh dan menakut-nakuti mereka akan menjadi orang yang dipuji oleh umatnya walau dia sangat dibenci dan dimusuhi oleh umat lain.

Seorang laki-laki seperti Jengish Khan telah meneror seluruh dunia dan melakukan kejahatan luar biasa, melakukan pembantaian yang bisa membuat dahi setiap orang berkerut, dia termasuk orang yang paling menakutkan di mata kebanyakan manusia, tapi bagi umatnya dia laksana dewa, bahkan anak dewa.

Negeri Romawi yang telah memperbudak mayoritas penduduk bumi dan membunuh jutaan jiwa dianggap sebagai perintis peradaban barat dan hingga sekarang mereka masih mengenang dan menyebut-nyebut nama-nama jenderalnya dengan nama harum.

Amerika yang telah membunuh lebih dari seratus juta orang Afrika dan seratus juta penduduk asli benuanya, bahkan membantai habis bangsa Indian, sama sekali tidak melihat hal ini sebagai aib, karena mereka meyakini ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangun peradaban membawa obor demokrasi ke seluruh dunia.

Ketika menteri luar negeri AS, Madeleine Olbeirt ditanya tentang setengah juta anak-anak Iraq yang terbunuh oleh tentara Amerika, dengan enteng dia menjawab; “Itu angka yang bisa diterima”, dia melihat dengan kaca mata kemashlahatan Amerika-Zionis, karena dia memang seorang wanita Yahudi yang berada di barisan pertama ingin menunda hancurnya negara Yahudi oleh tangan-tangan orang Iraq dengan cara membunuh mereka sebanyak-banyaknya. Dan tidaklah negara-negara barat dan timur membuat bom-bom mematikan ini kecuali dengan tujuan untuk meneror musuh-musuh mereka.

Terorisme membutuhkan jenis tertentu manusia, jenis yang percaya tentang pentingnya iman yang kuat, yang mengetahui hakikat jiwa dan kemanusiaan, tabiat sosial, mampu menimbang dengan neraca mashlahat bukan perasaan. Sekedar pembunuhan tidaklah menjadi teror jika tidak bisa memenuhi tujuan menakut-nakuti dan mewujudkan tujuan tertentu. Sebagian kelompok ada yang bisa ditundukkan dengan pembunuhan tapi tidak menyerah jika hanya ditakut-takuti, sebagian ada yang bisa lebih ditundukkan dengan kebaikan daripada dengan teror, sebagian ada yang sudah kebal dengan celaan dan tidak bisa diperlakukan kecuali dengan teror, seperti Yahudi, Rafidhah, Majusi, sekuleris dan yang sejenisnya. Mereka ini tidak bisa diperlakukan kecuali dengan kekuatan, dan ketika pedang teror dicabut dari mereka, mereka pasti akan membuat makar dan berkhianat.

Siapa yang membuka ulang sejarah Islam pasti akan mendapati dalam lembaran-lembarannya­ akan mendapati sesosok teroris yang diacungi jempol oleh para teroris lain, mereka mengakuinya dengan senioritasnya dan tunduk dengan kepatuhan, dialah Saifullah Abu Sulaiman Khalid ibn al-Walid ibn al-Mughirah al-Makhzumi al-Qurasyi al-‘Adnani -semoga Allah meridhoinya dan dia ridho kepadaNya- penghancur pasukan murtad, Majusi dan Romawi. Seorang shahabat mulia yang tidak diragukan lagi, berhak mendapat gelar “jenderal” teror Islami, maka Khalid adalah gurunya seni teror yang tidak ada yang menyaingi, menyamai dan tidak diragukan lagi.

Dengan sedikit menapak tilas sejarah laki-laki jenius ini, maka kita akan mendapat gambaran jelas tentang kepribadian unik yang sangat jarang terulang dalam kehidupan umat. (*)

Sebuah nukilan di dalam Prolog buku dengan judul “JENDERAL TEROR ISLAM KHALID IBN AL-WALID”

Oleh : Syaikh Husain Ibn Mahmud

Selengkapnya, silakan anda unduh e-book dengan judul tersebut diatas untuk menambah khasanah pengetahuan. Besarnya file 1,7 Mb berformat .pdf di link ini. Klik disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s