Wajibnya Baiat Kepada Khalifah

Junud Khilafah Ibrahim

Dimasa kita saat ini kehinaan umat Islam serasa sudah mencapai puncaknya, dengan jumlah yang hampir mendekari 2 milyar pemeluk Islam namun seakan jumlah yang banyak itu tidak dapat mengangkat izzah/kemuliaan umat Islam, penduduk yang terjajah seperti Palestina, Checznya, Irak, Suria, Rohingnya, Uighur dan umat Islam dibelahan bumi lainnya tetaplah merana dengan penganiayaan dan pembantaian oleh Rezim kafir atau milisi Kristen sebagaimana yang terjadi di Bangui Afrika Tengah.

Hal ini karena milyaran umat Islam telah merobohkan tiang kemuliaan, kejayaannya sendiri yang telah di gariskan oleh Allah dan RasulNya, yaitu jihad. Ya wahai saudaraku, umat Islamlah yang merobohkan tiang-tiang kejayaan dan izzah itu, hingga sampai kepada taraf yang sangat memalukan, para da’i, ustadz, kyai dll sangat jarang sekali mengangkat tema jihad, baik dalam khutbah, ta’lim, daurah dll, hingga taraf sehina ini wahai saudara, seakan jihad adalah sebuah materi yang identik dengan terorisme, seakan risalah jihad tidak boleh dikerjakan oleh umat Islam, dan umat Islam harus melongo ketika Palestina bersama kiblat pertama umat Islam diinjak-injak oleh keturunan kera dan babi (bani Israel), umat Islam harus melongo ketika terjadi pembantaian di DeirZour, Hama, dan Damaskus oleh Nushairiyah. Sadarlah wahai umat Muhammad, jihad tidak akan dibiarkan difahami pada makna hakikatnya oleh musuh Islam, sehingga mereka membuat makar, melalui media, pemimpin munafik, ulama’ su’ yang menjual agamanya hanya demi kedekatan dengan penguasanya untuk membuat syarat-syarat wajibnya jihad yang hampir mustahil untuk dapat dipenuhi.

Maka saat ini wahai umat Islam, telah ditegakkan Khilafah dibawah bendera Tauhid, dipimpin oleh Amirul Mukmini Abu Bakar Al-Baghdadi Al-Qurasyi Al-Husainiy Assamara’i Al-Baghdadi, untuk menegakkan kembali izzah Islam dan Kaum muslimin, apakah kalian tidak melihat sebuah Daulah/Negara Islam yang baru seumur jagung dan memiliki jumlah tentara yang dapat dihitung dengan jari dapat menebarkan debu kehinaan atas Amerika? Sehingga harus memaksanya untuk bersekutu dengan 60 negara lebih dibawah pimpinan Obama, termasuk didalamnya adalah Negara-negara munafik Jazirah Arab, hal ini karena Amerika merasa tidak mampu untuk menghadapi Daulah yang hanya bersandar kepada Allah sebagai penolong.

Maka pada kesempatan ini kami akan mengkaji dari segi Aqidah maupun Fiqih tentang keabsahan khilafah dibawah Amirul Mukminin Abu Bakar Al-Baghdadi, dengan mengharap bantuan dari Allah semoga Allah memudahkan usaha kami yang tidak berarti ini dibanding darah-darah syuhada’ yang didedikasikan untuk kejayaan Tauhid dan Jihad.

Jika ada yang mengatakan bahwa khilafah Al-baghdadi tidak sah karena tidak ada Ahli Halli wal Aqdi, maka anggap demi berjalannya dialog kami setuju tidak adanya ahli halli wal aqdi, namun lihatlah apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad Rahimahullah :

أصول السنة لأحمد بن حنبل (1/42)

والسمع وَالطَّاعَة للأئمة وأمير الْمُؤمنِينَ الْبر والفاجر وَمن ولي الْخلَافَة وَاجْتمعَ النَّاس عَلَيْهِ وَرَضوا بِهِ وَمن عَلَيْهِم بِالسَّيْفِ حَتَّى صَار خَليفَة وَسمي أَمِير الْمُؤمنِينَ

Wajibnya mendengar dan taat kepada para Imam dan Amirul Mukmini yang baik maupun yang fajir dan kepada siapa saja yang memegang tampuk Khilafah, manusia bersatu diatasnya dan ridho kepadanya, serta siapa saja yang dapat berkuasa atas mereka dengan pedang (senjata) hingga menjadi kholifah dan diberi nama Amirul Mukminin. (ushul Assunnah, Imam Ahmad bin Hambal 1/42)

Jika Abu Bakar Al-Baghdadi, selain dia dari Quraisy, Islam, baligh, berakal, merdeka dan laki-laki dia juga memiliki senjata dan tentara yang dapat menaklukkan/ menguasai suatu wilayah yang terbentang dari Irak dan Suria, maka menurut Imam Ahmad dalam Ushulnya diatas dia berhak untuk posisi khalifah, karena umat Islam berbondong-bondong dari Eropa, Amerika, Afrika, Asia, Australia untuk bersatu berhijrah kepada Daulah yang beliau pimpin, kecuali sebagian umat Islam yang masih terbelenggu oleh syubhat-syubhat.

Imam Ahmad setelah menjelaskan panjang lebar dan gambling tentang sahnya Imamah jika terdapat Ahli halli wal Aqdi, beliau mengatakan:

Lebih lanjut simaklah pemaparan berikut :

الانتصار في الرد على المعتزلة القدرية الأشرار (3/823)

وقال أصحابنا: وقد ثبتت الإمامة من وجه غير ما تقدم ذكره، فإن لم يكن هناك إمام فقام رجل له شوكة وفيه شروط الإمامة فقهر الناس بالغلبة فأقام فيهم الحق، فإن إمامته تثبت وتجب طاعته والدخول تحت حكمه، لأن المقصود قد حصل بقيامه، إلا إن قهره من هو بمثل صفته وصارت له الشوكة والغلبة فإن الأول يخلع ويصير الثاني أولى بالطاعة لما ذكرنا في الأول

Kalangan kami berkata : Imamah telah tetak (tegak) dari sisi selain yang telah disebutkan didepan, maka jika disana tidak ada imam, kemudian ada seseorang yang berdiri dan memiliki Syaukah (senjata/kekuasaan/kekuatan) dan telah terpenuhi syarat-syarat Imamah lantas dia memaksa manusia dengan menguasainya, kemudian menegakkan kebenaran diantara mereka, maka ketahuilah sesungguhnya Imamahnya/ kepemimpinannya telah sah dan wajib mentaatinya serta masuk dibawah hukumnya, karena tujuan (tegaknya syariat.pen) telah tercapai dengan tegaknya dia sebagai khalifah, kecuali jika ada orang yang mempunyai sifat sepertinya kemudia memaksanya (menguasainya) dan dia mempunyai Syaukah dan dapat mengalahkannya maka yang (Imam)pertama dilengserkan dan yang kedua lebih berhak untuk ditaati, karena apa yang telah kami sebutkan pada orang pertama.[1] (Alintishar firrad ala Al-Mu’tazihal Al-Qodariyah Al-Asyrar 3/823)

Maka alasan apa lagi yang kalian cari wahai umat Islam? Bukankan para Ulama’ kalian telah mengatakan bahwa hal itu telah menjadi ijma’ (sahnya pemimpin yang dapat menguasai wilaya dengan senjata) itulah apa yang ditempuh oleh Al-Baghdadi, walaupun bagi yang mengkaji sejak awal dia akan mengerti bahwa telah terjadi syuro (musyawarah) oleh Ahli halli wal Aqdi dalam tubuh Daulah.

Maka untuk menyudahi perpecahan hanyalah kita bersatu dibawah komandonya sebagaimana nukilan nash diatas, mendukungnya dalam menegakkan syariat Islam.

Ya tentu saja para penguasa lain tidak rela Negara kekuasaannya yang kayak minyak, emas dll diserahkan menjadi satu wilayah dalam satu Daulah Islam karena akan mengurangi pendapatan yang masuk dikantong mereka dan tidak akan lagi menjadi Raja terkaya didunia.

Sebagai Khalifah Abu Bakar Al-bahgdadi telah menegakkan hak, seperti menegakkan hukuman bagi peminum khamer, perokok, pengedar narkoba, hingga merajam pezina muhshon, dan menghukum mati pelaku homoseksual. Bahkan belia telah membebaskan tawanan dari kalangan kaum Muslimin yang ditawan oleh pemerintahan Syiah Irak bertahun-tahun tanpa nasib yang jelas, bahkan baru ini beliau membebaskan Ibunda Sajidah Al-Risyawi dengan dua ekor orang kafir dari Jepang dan Yordania. Yang mana para pemimpin “Muslim” hanya bisa berdansa dengan Bush dan Obama ketika ribuan umat Islam mendekam di dalam penjara Nuri Al-Maliki dan Bashar Assad, namun Al-Baghdadi telah jauh melangkah dengan menumpas koalisi salibis, membebaskan tawanan, menerapkan jizyah hingga orang kafir merasa hina.

Demikian yang dapat kami tulis, kebenaran hanya dari Allah dan kesalahan dari diri saya pribadi dan dari setan. Allahu A’lam bishshowab.

-Abu Zakir Liwa’ Attauhid.-

Footnote :

[1] Ini adalah madzhab Ahlussunnah, dan Al-Qadhi Abu Ya’la menceritakan dari Imam Ahmad dalam risalam Abdus bin Malik: “ barang siapa yang dapa mengalahkan/ menguasai manusia dengan pedang (senjata) hingga menjadi khalifah dan disebut Amirul Mukminin maka tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dia bermalam dan tidak melihat atasnya ada imam baik adil ataupun fajir, karena dia adalah Amirul Mukminin”, yang sah dari ushuluddin hal. 238, Ibnu Hajar berkata: para Fuqaha’ telah bersepakat atas wajibnya taat kepada penguasa yang menguasai dengan paksa, serta jihad bersamanya, dan bahwa taat  kepadanya lebih baik daripada Khuruj’ (menentangnya), karena bisa menyebabkan terjaganya darah, terciptanya ketentraman dimasyarakat, hujjah mereka adalah hadis ini:

“من رأى من أميره شيئاً يكرهه فليصبر عليه فإنه من فارق الجماعة شبراً فمات إلا مات ميتة جاهلية”

“barang siapa melihat sesuatu dari pemimpnnya (amirnya) yang dia benci, maka hendaklah bersabar atasnya, karena sesungguhnya siapa yang meninggalkan jama’ah sejengkal saja, kemudian dia mati maka dia mati seperti mati jahiliyah” (fathul bari 7/13), Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab juga menyebutkan ijma’ atas hal ini beliau berkata: “ para Imam dari seluruh madzhab bersepakat bahwa barang siapa yang dapat menguasai satu Negara atau dua Negara maka dia memiliki hukum Imam dalam segala sesuatu.” (Ad-Durar As-Saniyah 7/239, kitabul Imamah Al-uzhma hal. 222)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s