Aku Adalah Muslim

Aku adalah muslim

Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak di ibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya, menegakkan shalat, menunaikah zakat, berpuasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bagi yang mampu.

Barang siapa telah mengamalkan rukun Islam diatas maka dia adalah seorang muslim, memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan muslim lainnya, haram kehormatan, darah, dan hartanya, kecuali jika dia melakukan pembatal-pembatal keIslaman.

Islam menyatukan seluruh manusia di muka bumi, dan melarang perpecahan, Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yang di bawa oleh baginda Rasul Muhammad diteruskan oleh para Shahabat dan Tabi’in serta semua yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

Islam melarang perpecahan, melarang bergolong-golong, yang menyebabkan kelemahan di tubuh umat Islam. Allah berfirman:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Artinya: “Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 31-32)

Dalam ayat ini Allah melarang kita termasuk kedalam musyrikin, ciri musyrikin adalah memecah belah agama dan menjadikan bergolong-golong, serta membanggakan apa yang ada dalam golongan mereka.

Namun jadilah Muwahhidin Mukhlisin kepada Allah dengan ibadah dan tidak menginginkan selain Allah. Orang-orang musyrikin memecah belah agama, yang berarti mengganti dan merubah syariat Allah, beriman kepada sebagian syariat namun mengkufuri sebagian lainnya.

Para pemeluk agama sebelum kita, mereka berpecah belah diantara mereka diatas pemikiran dan sekte-sekte batil, setiap sekte dari mereka mengklaim merekalah yang paling benar, umat ini pun demikian, berselisih sesama mereka diatas kelompok-kelompok yang semuanya adalah sesat kecuali satu, mereka adalah Ahlussunnah wal Jama’ah yang berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah sesuai pemahaman generasi awal; para Shahabat, Tabi’in dan para Imam kaum muslimin dari dulu hingga masa mendatang, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Mustadraknya, ketika Rasulullah ditanya tentang firqah An-Najiyah, beliau menjawab:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

“Apa yang aku dan para Shahabatku diatasnya.”[1]

Allah berfirman:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ

“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia” (QS. Al-Hajj: 78)

Allah telah memberi identitas kepada umat ini yaitu Muslimin, bukan Salafi, Ikhwani, Syiah, Nahdhiyyin, dll. Maka tidak sepatutnya kita menyelisihi ayat ini dengan memberikan gelar pada kelompok-kelompok karena akan memecah belah dan melemahkan umat Islam. Karena sebagaimana ayat diatas bahwa setiap kelompok saling membanggakan dengan apa yang mereka bawa, dan meremehkan kelompok lainnya. Ini adalah sifat jahiliyah kaum musyrikin yang tetap digandrungi umat Islam. Karena pada umumnya seseorang jika telah menisbatkan diri pada kelompok tertentu maka loyalitasnya dia berikan pada kelompoknya bukan lagi kepada Islam, padahal loyalitas itu hanya untuk Islam. Seorang salafi tidak lagi memandang seorang Ikhwani diatas kebenaran begitu pula sebaliknya, seorang nahdhiyin sangat fanatik terhadap ajaran kyainya meskipun menyelisihi ajaran Islam. Mereka tidak memandang lagi Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pemersatu umat, melainkan sebagai alat pembenaran kelompok masing-masing.

Maka panggilah saudaramu dengan nama yang telah Allah berikan kepada umat ini yaitu Muslimin, dan janggan berbangga dengan gelar yang baru yang justru akan memecah belah umat ini, Rasulullah bersabda:

“Barang siapa memanggil dengan panggilan jahiliyah maka sesungguhnya dia termasuk debu Jahannam.” Seseorang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam walaupun dia shalat dan puasa?” beliau bersabda: “Walaupun Shalat dan berpuasa.” Maka serulah dengan seruan Allah yang telah dia berikan kepada kalian yaitu Al-Muslimin wahai hamba-hamba Allah.[2]

Nama Salaf, Ikhwan, Jama’ah Islam adalah nama-nama yang mulia dan terhormat, namun jika digunakan untuk memecah belah persatuan Islam dan kaum Muslimin maka ini termasuk perkara yang sangat dilarang di dalam Agama Islam, maka sudah saatnya kita menjauhi penisbatan diri kepada kelompok dan hanya berbangga dengan gelar yang Allah berikan kepada kita, yaitu Al-Muslim. Berkelompok dan bergolongan akan membuahkan perpecahan sehingga melemahakan kekuatan umat ini.

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Footnote:

[1] Lihat Tafsir ibnu Katsir 3/574.

[2] Tafsir Ibnu Katsir 3/318.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s