Hukum Mencela Nabi -Shallallahu Alaihi wa Sallam-

Pencela Rasulullah

Bismillah, wal hamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Rasulullah, keluarga, para Shahabat beliau serta siapa saja yang dengan setiap mengikuti beliau hingga akhir zaman.

Allah tidaklah menciptakan kita dengan sia-sia, tanpa tujuan, namun Allah menciptakan kita dengan tujuan yang agung yaitu beribadah kepadaNya serta meninggalkan segala macam bentuk kesyirikan kepada Allah.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Demi tercapai tujuan mulia yaitu tauhid kepada Allah Azza wa Jalla, maka Dia mengutus para Rasul untuk membimbing manusia bagaimana cara beribadah yang benar, agar membimbing manusia bagaimana cara beraqidah yang benar, tanpa bimbingan para Rasul maka mustahil manusia berada di jalan yang lurus sesuai apa yang Allah perintahkan. Dengan di utusnya para Rasul itu manusia dapat memahami bagaimana mentauhidkan Allah dan menjauhi thaghut. Sebagaimana Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah kan Aku”. (QS. Al-Anbiya’: 25)

Inilah tujuan utama di utusnya Para Rasul di muka bumi, untuk mendakwahkan tauhid dan mengajak manusia untuk hanya beribadah kepada Rabbul Ibad, dan hak para Rasul itu adalah di taati, Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ

“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah.” (QS. An-Nisa’: 64)

Seluruh ayat dan hadits menunjukkan kewajiban atas manusia untuk mengagungkan, menghormati dan membela para Rasul dengan lisan, tulisan, harta bahkan jiwa, seluruh nash-nash syar’iyyah mengharamkan bagi siapa saja untuk mencela para Rasul, menghina, merendahkan maupun melecehkan, dengan ucapan, perbuatan, tulisan ataupun gambar. Karena perbuatan ini menunjukkan ketidaktundukan seseorang terhadap syariat Allah, meremehkan dan mengganggu hak-hak para utusan.

Dewasa ini banyak terjadi pelecehan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa film maupun karikatur, di Belanda, Denmark, Australia bahkan di belahan bumi lainnya yang tidak kita ketahui. Reaksi umat Islam beragam dalam merespon pelecehan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, ada yang cuek seakan tidak peduli, ada yang protes dengan demonstrasi, adapula yang rela menukar hidupnya dengan kehormatan sang Rasul teragung ini, sebagaiamana yang sangat terkenal aksi para pecinta Rasul yang menyerang kantor majalah satir Chalie Hebdo, sebuah majalah yang sangat dikenal anti Islam, dengan karikaturnya majalah itu sangat melecehkan Rasulullah dan menyakiti hati kaum muslimin, namun reaksi yang paling aneh bin ajaib adalah masih ada sebagian dari pengaku Islam yang memprotes tragedi Charlie Hebdo itu, mereka membela dengan turun jalan dan menyatakan “Kami bersama Charlie Hebdo”.

Lalu bagaiamana pandangan syariat Islam terhadap para pelaku pelecehan hak-hak Rasulullah? Berikut kami paparkan secara singkat namun tetap menyeluruh agar tidak ada lagi reaksi munafik seperti yang kami sebutkan.

Al-Qadhi Iyadh berkat: “Nash-Nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’ Ummat atas wajibnya mengagungkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, menghormat dan memuliakan beliau, karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan untuk menyakiti beliau dalam kitabNya:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَاباً مُّهِيناً

“Orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)

وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَداً إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِندَ اللَّهِ عَظِيماً

“Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Bahwasannya mencela Allah dan RasulNya adalah kekufuran baik zhahir maupun batin, sama saja baik pencela meyakini bahwa itu adalah haram maupun mengharamkannya, ataupun terjadi diluar keyakinannya, ini adalah mazhab para Fuqaha’ dan seluruh kalangan Ahlussunnah yang mengatakan bahwa iman itu ucapan dan perbuatan (berpendapat demikian; kafirnya pencela Rasul).”[2]

Beliau juga berkata: “Celaan yang berasal dari hati mengharuskan kekufuran secara zhahir maupun batin, ini adalah madzhab para Fuqaha’ dan lainnya dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian kalangan dari Jahmiyah dan Murji’ah yang mengatakan bahwa iman adalah cukup berupa ma’rifat dan ucapan tanpa amalan-amalan hati, walaupun secara zhahir mereka menolaknya, namun dalam hati mereka meyakininya.”[3]

Bahwa mencela Nabi itu termasuk kekufuran dan pembatal keimanan, dilihat dari beberapa sisi:

Pertama, Firman Allah:

وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيِقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَّكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِّلَّذِينَ آمَنُواْ مِنكُمْ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. يَحْلِفُونَ بِاللّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَن يُرْضُوهُ إِن كَانُواْ مُؤْمِنِينَ. أَلَمْ يَعْلَمُواْ أَنَّهُ مَن يُحَادِدِ اللّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِداً فِيهَا ذَلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ

“Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu’min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mu’min. Tidaklah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya nerakan jahannamlah baginya, kekal mereka di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar.” (QS. At-Taubah: 61-63)

Ibnu Taimiyah berkata: “Maka di ketahui bahwa menyakiti Rasulullah berarti memusuhi Allah dan RasulNya; karena penyebutan lafazh “menyakiti” itu mengandung makna “memusuhi”, berarti wajib masuk kedalam cakupannya, jika tidak demikian maka ucapan itu tidak nyambung jika di katakan bahwa: “dia tidaklah memusuhi”, maka dari sini dapat disimpulkan bahwa menyakiti dan memusuhi (Rasulullah) adalah kekufuran; karena Allah mengkhabarkan bahwa baginya (pencela) adalah Neraka Jahannam dia kekal didalamnya, dan Dia tidak berfirman: “Jahannam adalah balasan untuknya”, diantara kedua ucapan ini memiliki perbedaan, bahkan memusuhi adalah kekufuran plus memerangi ini adalah lebih besar daripada hanya sekedar kufur, maka orang yang menyakiti Rasulullah adalah kafir musuh Allah dan RasulNya, serta memerangi Allah dan RasulNya….

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ فِي الأَذَلِّينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menetang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS. Al-Mujadalah: 20) jika dia adalah seorang yang mukmin lagi ma’shum (darahnya) maka tidak mungkin dia hina, karena Allah berfirman:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS. Al-Munafikun: 8)[4]

Kedua, Firman Allah:

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِم. قُلِ اسْتَهْزِئُواْ إِنَّ اللّهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُونَ.  وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِين

“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah: 64-65)

Ibnu Taimiyah berkata: “ini adalah nash tentang kekafiran siapa saja yang mengolok-olok Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, apalagi mencela maka lebih pantas (untuk dikafirkan), ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja yang mencela Rasulullah bercanda maupun serius maka sungguh dia telah kafir.”[5]

Dan masih banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang kekafiran pencela/penghina Nabi, adapun dari hadits diantaranya:

  • Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma: “Bahwa ada seorang buta yang memiliki budak wanita yang telah mengandung anak darinya menghina Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka dia melarang wanita itu namun tidak juga berhenti (mencela Nabi), dia membentaknya namun tidak juga berhenti, dia berkata: “maka suatu malam ketika dia sedang mencela dan menghina Nabi, dia (laki-laki tersebut) mengambil mighwal (pedang pendek) maka dia meletakkannya di perut wanita itu, kemudian dia menindisnya dan membunuhnya, tapi bersamaan dengan kematiannya bayi yang ia kandung keluar dari kedua selakangan kakinya. Farji wanita itu berlumuran darah. Keesokan harinya kejadian itu disampaikan kepada Rasulullah. Lalu beliau mengumpulkan para Shahabat dan bersabda: “Aku bersumpah kepada Allah untu mencari lelaki yang teh melakukan apa yang dilakukannya, dan aku berkewajiban untuk menghukumnya kecuali jika dia memberikan hujjah.”Kemudian seorang lelaki buta datang dan berjalan melewati orang-orang yang duduk dihadapa Nabi SAW, kemudian dia berkata: “Wahai Rasulullah, akulah pemilik budak itu. Dia selalu mencaci dan mencela Anda. Aku telah melarangnya tapi dia tidak berhenti, aku telah mencegahnya namun tidak pula dapat dicegah. Aku memiliki dua orang anak dari hubunganku dengannya seperti dua buah mutiara, diapun sangat mencintai aku. Namun semalam dia kembali mencela dan mencaci Anda. Lalu kuambil pedang dan kuletakkan di atas perutnya kemudian aku tindih dia sehingga ia mati terbunuh.Setalah mendengar kesaksiannya, Nabi bersabda: “Saksikanlah bahwa darahnya adalah halal (sia-sia).” [6].

Al-Kaththabi berkata: “Di dalam hadits ini terdapat  penjelasan bahwa pencelaan terhadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam itu mengakibatkan bolehnya darah di tumpahkan, demikian itu karena mencela Rasulullah adalah kemurtadan dari agama Islam, dan aku tidak mengetahui seorangpun dari kaum muslimin yang berselisih tentang kewajiban membunuhnya.”[7]

  • Dari Anas RA bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memasuki Makkah pada tahun penaklukan sedangkan beliau memakai mighfar[8] ketika beliau melepaskan seseorang datang, beliau pun bersabda: “Ibnu Khattal sedang bergelantung di kiswah Ka’bah, maka bunuhlan dia.”[9]

Adapun dari Ijma’ telah banyak di nukil akan kafirnya pencela Rasulullah dan kehalalan darahnya:

  1. Ibnu Taimiyah Rahimahullah menukilkan ijma’ Shahabat dengan berkata: “Adapun ijma’ Shahabat karena dinukil dari mereka dalam berbagai macam kejadian dan peristiwa yang tersebar sangat banyak sekali (tentang hukuman pencela Rasul), dan tidak seorangpun dari mereka mengingakarinya, maka jadilah sebuah ijma’/konsensus”.
  2. Disebutkan oleh Saif bin Umar At-Tamimi dalam kitabnya “Ar-Ridah wal Futuh” ketika sebuah kasus diangkat ke Al-Muhajir bin Abi Umayah (Amir di Yamamah dan sekitarnya) bahwa seorang penyanyi wanita mencela Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka dia memotong tangannya dan mencabut gigi depannya, maka Ash-Shiddiq menulis surat kepadanya: “Telah sampai kepadaku apa yang engkau lakukan kepada wanita yang bernyanyi dan bergoyang dengan mencela Nabi, seandainya aku tidak di dahului dengan apa yang telah terjadi, maka sungguh aku akan menyuruh engkau untuk membunuhnya, karena had para Nabi itu tidak seperti hukum had lainnya, barang siapa yang melakukannya dari seorang muslim maka dia murtad, atau seorang mu’ahid maka dia menjadi seorang muharib dan boleh di alirkan darahnya.[10]

Dari sini kita mengetahui kesalahan murji’ah dan semisalnya yang menyelisihi ijma’, mereka mengatakan bahwa kekafiran pencela Nabi itu tergantung apakah di sertai penghalalan atau tidak. Maka Ahlussunnah harus membedakan perbuatan dosa yang tidak menjadikan pelakunya kafir kecuali jika menghalakannya, dengan perbuatan dosa yang membuat pelakunya kafir, murtad baik disertai penghalalan maupun tidak, seperti menghina Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka pelakunya di hukumi murtad, halal darahnya walaupun dia mengakui keharaman mencela Nabi.Setelah mengetahui hukuman pencela Nabi, maka muncul pertanyaan:

Saat ini kita hidup di sebuah negara kafir yang tidak berhukum dengan syariat Islam, lalu bagaimana menyikapi jika ada seorang muslim atau kafir yang mencela Nabi?

Jawab:

Pertama : Bahwa syariat Islam itu bersifat universal/menyeluruh dan wajib di terapkan dimanapun sampai kapanpun, barangsiapa mengganti syariat Islam dengan syariat manusia maka dia kafir sebagaimana telah menjadi kesepakatan umat Islam. Ada bab tersendiri dalam hal ini, in syaa Allah akan kami bahas pada kesempatan berikutnya demi membantah syubhat Neo Murji’ah/ kelompok Salafi modern tentang seputar berhukum kepada selain syariat Islam.

Kedua: Kehormatan Nabi Muhammad adalah hak setiap muslim, siapapun dia maka wajib membela kehormatan beliau dan para Ummahatul Mukminin dimanapun dia hidup, baik dibawah hukum syariat maupun tidak. Karena jika kehormatan seorang Nabi bergantung kepada hukum sebuah negara maka ini akan berakibat semakin banyak muncul para penghina, pencela Nabi dengan dalih kebebasan berekspresi dan berpendapat, jika kita serahkan pada konstitusi setempat maka kita akan menyia-nyiakan kehormatan Rasulullah, dimana hukum asal pencela Rasulullah adalah di penggal lehernya. Dan tidak harus qishas itu di tegakkan oleh penguasa, karena setiap muslim wajib membela kehormatan Nabinya, jika membela kehormatnnya, keluarga dan hartanya sendiri adalah wajib maka bagaimana bagaimana dengan kehormatan Rasulullah? Tentu lebih wajib lagi. Jika karena membela jiwa, keluarga dan hartanya menyebabkan dia mati syahid, maka bagaimana dengan orang yang membela kehormatan Rasulullah?!

Rasulullah bersabda: “Barang siapa terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.” [11]

Dalil lainnya yang menyebutkan bahwa menuntut kehormatan Rasulullah adalah hak setiap muslim dan tidak harus mendapat persetujuan penguasa adalah hadis yang  telah kami sebutkan diatas, dimana seorang lelaki buta yang membunuh budak wanitanya karena menghina Nabi, dan perbuatan itu tanpa mendapat izin dari Rasulullah sebelumnya.

Karena Syariat Islam telah mengizinkan bahwa setiap pencela Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam boleh dialirkan darahnya, walaupun hukum di negara ini tidaklah demikian, maka seorang muslim tidak ada pilihan lain kecuali memilih syariat Islam sebagai hukumnya, dan meninggalkan hukum Jahiliyah.

Penutup:

Al-Qadhi Iyadh berkata: “Dan kami tidak mengetahui khilaf/perbedaan dalam kebolehan mengalirkan darahnya (pencela Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam) dianta Ulama’ sepenjang masa dan dari salaful Ummah, dan bukan hanya satu yang menyebutkan ijma’ akan wajibnya membunuh dan mengkafirkan dia (pencela Nabi).[12]

Allahu A’lam bish Shawab.

– Abu Zakir –

footnote :

[1]Asy-Syifa’ 2/926 dan 927 secara ringkas.

[2] Ash-Sharim Al-Maslul hal.451.

[3]Idem hal. 324. Hal ini persis sebagaiamana apa yang diyakini oleh sekte murjiah kontemporer baik dari kalangan salafi maupun NU, mereka mendefinisakan iman seperti definisi Ahlussunnah yaitu; iman adalah ucapan, perbuatan, dan keyakinan dalam hati, namun hanya secara zhahir, adapun prakteknya mereka mengatakan bahwa para pelaku kekafiran itu tidak kafir selama tidak disertai penghalalan. Ini adalah kebodohan yang nyata.

[4] Ash-Sharim Al-Maslul hal. 24-25 ringkas.

[5] As-Sharim Al-Maslul hal.28 dan lihat Al-Majmu’ Al-Fatawa 15/48.

[6] HR. Abu Daud dalam kitab Hudud, bab Hukum orang yang mencela Nabi SAW (4361), dan An-Nasa’i 7/99.

[7] Ma’alim As-Sunan 4/528.

[8] Helm besi.

[9] HR. Al-Bukhari 8/15 hadis no. 4286 dan Muslim 2/989 (1357).

[10] Sharim Al-Maslul hal.173 ringkas.

[11] HR. Al-Bukhari (2480), lihat Fathul Bari 5/138.

[12] Asy-Syifa 2/933 dan 2/1029.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s