Tangan-tangan Najis Liberalisme

indonesia tanpa JIL dan JIN

Liberalisme adalah sebuah gerakan “pembaharuan” (baca: perubahan),  yang menggabungkan berbagai macam faham, seperti pluralis, inklusif plus sekuler maka muncullah sebuah kelompok bernama “Islam liberal” yang menganut kebebasan berfikir, jika zaman dahulu kita mengenal sekte Mu’tazilah yang mengedepankan rasio daripada dalil/nash syariat, segala sesuatu mereka ukur dengan dengan akal, jika bertentangan mereka buang namun jika sesuai maka mereka terima.

Asas dasar ‘Liberalisme” adalah kebebasan berfikir, menafsirkan dan berpendapat, meskipun mereka menolak di sebut sebagai neo Mu’tazilah namun pada prinsipnya kelompok “Islam Liberal” mirip dengan pola berfikir Mu’tazilah atau dibarat lebih dikenal dengan kaum rasionalis.

Sebenarnya arus liberalisasi tidak hanya menyerang umat Islam, justru agama seperti Yahudi dan Nasrani terlebih dahulu mengalami gelombang liberalisasi.  Sehingga sering kita dapati di sinagog atau gereja-gereja di negara Barat mengadakan pernikahan sesama jenis, bahkan para pastur dan pendeta liberal banyak yang menikahi sejenisnya. Namun disini kita hanya akan membahas arus liberalisasi yang sedang menyerang umat Islam, kami tidak mengatakan menyerang Islam, karena Islam adalah agama yang senantiasa dijaga oleh Allah dari makar-makar para penjahat ideologi maupun kriminal.

“Islam” Liberal menganggap tidak ada yang baku/tetap dalam agama ini, semuanya bisa berubah tergantung situasi, tempat dan kondisi. Karena dasar pemikiran seperti inilah si kafir Ulil Abshar mengatakan:

  • “SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup;
  • Sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia.
  • Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap
  • sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.
  • Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.”

Dengan kata lain, liberalisme adalah faham pengacauan/penghapusan sendi-sendi Umat Islam, mereka menyerang cara berfikir umat agar menjadi bebas tidak dibatasi oleh aturan-aturan agama.

Kelompok Liberal lebih dekat kepada musuh-musuh Islam, walaupun mereka menamakan diri “Islam Liberal” dimana dalam setiap pernyataan kelompok ini selalu menyakiti hati umat Islam, karena menyudutkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi, mereka mengatkan bahwa Islam dahulu sudah tidak sesuai dengan perubahan zaman, sehingga harus menyesuaikan dengan lingkungan setempat.

Misalnya syariat hijab/jilbab menurut mereka ini sudah tidak sesuai dengan zaman, ayat-ayat hijab turun karena di Arab itu padang pasir, untuk melindungi rambut dari debu dan kotoran pasir maka turunlah ayat ini, namun secara geografis Indonesia berbeda dengan Arab, Indonesia adalah negara tropis, begitu pula secara kultur dan budaya jilbab bukanlah budaya Indonesia, sehingga tidak perlu lagi menggunakan jilbab/hijab. Sebagai orang Indonesia maka sewajarnya melestarikan budaya nusantara jika wanita yang memakai kebaya, kemben, selendang, tidak perlu menggunakan jilbab yang panjang apalagi sampa menutupi wajahnya. Dan masih banyak lagi syariat Islam yang menurut mereka tidak sesuai dengan era saat ini. Seperti laragan seorang muslimah menikah dengan non muslim, sebagaimana dedengkot Liberal yang telah binasa Nur Cholis Majid yang menghalalkan muslimah menikah dengan non muslim. Ini adalah tindakan melabrak nash-nash syariat yang telah jelas dan tetap.

Adapun tentang hijab, maka sudah menjadi kesepatakatan umat Islam sejak dahulu hingga sekarang bahwa hijab itu wajib bagi wanita, sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Di dalam ayat tersebut terdapat perintah untuk Ummahatul Mukminin, puteri-puteri Nabi dan semua wanita-wanita yang beriman untuk mengulurkan jilbab, sedangkan kaidah syariat mengatakan: “Asal dari perintah itu hukumnya wajib.” Jadi jilbab adalah syariat yang diwajibkan untuk muslimah dimanapun berada, dan ayat ini berlaku sampai kapanpun.

Hikmah dari jilbab yang terkandung dalam ayat ini adalah:

  1. Supaya mudah di kenal; di kenal jika zaman dahulu perbedaan antara muslimah merdeka dan yang budak, namun saat ini agar di kenal dan dapat dibedakan apakah dia muslimah atau kafir. Namun saat ini sangat sulit membedakan antara muslimah dan bukan, mereka sama-sama tidak berjilbab, pakaian ketat, dst.
  2. Agar tidak di ganggu; sungguh ini merupakan perhatian dan bentuk kasing sayang Allah kepada seorang muslimah, dimana jilbab dapatlah mengurangi resiko gangguan dari tangan-tangan jail. Seandaianya di sebuah jalan yang sepi, ada dua wanita kembar, sama-sama cantik, namun yang satu berhijab secara syar’i dan yang lainnya mengumbar aurat, jika ada orang yang berniat mengganggu maka kira-kira siapa yang akan di ganggu? Jawabannya hanya satu yaitu yang mengumbar auratnya, karena menanggalkan hijab sama dengan mengundang syahwat. Maka Islam menutup semua jalan yang dapat menyebabkan gangguan terhadap seorang muslimah, sehingga mensyariatkan hijab, melarang berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, melarang menyentuh lawan jenis yang bukan mahram. Karena dalam kebanyakan kasus wanita adalah pihak yang paling banyak dirugikan.
  3. Ternyata Jilbab secara kesehatan dapat mencegah kanker kulit, karena sinar matahari dapat menimbulkan kelainan kulit seperti sunburn (kulit memerah), solar keratosis, solar urticaria, photosensitivity, dan kanker kulit. Sebagaimana di katakan oleh pakar ilmu kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Warih Andan Puspitosari.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kanker kulit diakibatan oleh sinar Ultra Violet (UV) yang menyinar langsung wajah, leher, tagan serta kaki. Kanker ini banyak menyerang kepada bagian kulit yang putih, sebab kulit putih lebih mudah terbakar oleh sinar matahari. Kanker ini memang tidak hanya menyerang kaum wanita, kaum pria juga beresiko, hanya saja kaum wanitalebih tinggi resiko terkena kanker kulit di banding pria, oleh karena itu kebanyakan penderita kanker adalah wanita, terutama kanker kulit. Salah satu cara melindungi kulit dari sinar UV adalah dengan menutupnya dengan hijab/jilbab ketika keluar rumah dan di muka umum. Subhanallah sungguh ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada wanita muslimah. Karena itulah di penutup ayat Allah berfirman: “Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Hanya terkadang wanita sendirilah yang tidak sadar kalau dia sedang di sayang oleh Allah, namun jika sudah terjadi musibah padanya lantas dia menyesali, sungguh tidak ada yang patut di cela kecuali dirinya sendiri.

Kembali kepada tema tentang liberalisme, kalau itu yang disebut Islam Liberal, atau sebangsa yang menolak jilbab dan sebagainya, maka pantas kalau mendapatkan dampratan dari umat Islam. Hanya sayangnya, kenapa di Indonesia, bahkan di dunia Islam, pemikiran semacam itu, (“berbahaya karena sederhana”) justru diangkat-angkat bahkan diposisikan sebagai pembaharu, yang dalam bahasa Arabnya adalah mujaddid, yang hal itu punya kedudukan tinggi dalam Islam? Padahal, kenyataan pemikiran yang mereka sebarkan adalah satu bentuk pemikiran yang punya kelemahan-kelemahan pokok :

  1. Tidak punya landasan/ dalil yang benar.
  2. Tidak punya paradigma ilmiyah yang bisa dipertanggung jawabkan.
  3. Tidak mengakui realita yang tampak nyata.
  4. Tidak mengakui sejarah yang benar adanya.
  5. Tidak punya rujukan yang bisa dipertanggung jawabkan.

Kelemahan-kelemahan itu bisa dibagi dua :

  1. Lemah dari segi metode keilmuan.
  2. Lemah dari segi tinjauan keyakinan atau teologis.

Lemah dari segi ilmiyah atau realita kebenaran itu dalam Al-Qur’an ada gambarannya, yaitu fatamorgana disangka air.

كسراب بقيعة يحسبه الظمئان ماء حتى إذا جاءه لم يجده شيئا

laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (An-Nuur/ 24: 39).

Lemah dari segi aqidah digambarkan dalam Al-Qur’an bagai rumah labah-labah, selemah-lemah rumah.

مثل الذين اتخذوا من دون الله أولياء كمثل العنكبوت اتخذت بيتا وإن أوهن البيوت لبيت العنكبوت لو كانوا يعلمون

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Al-‘Ankabuut/ 29: 41).      

Dua-dua kelemahan itu ketika dibangun berbentuk sebuah bangunan maka ujudnya adalah pembangunan masjid dhiror, yang harus dihancurkan dengan cara dibakar. Sedang pembangunnya diancam neraka yang akan dimasukkan ke dalamnya beserta reruntuhan bangunan yang mereka buat. Masjid dhiror itu sendiri diibaratkan bangunan di tepi jurang yang runtuh, dan jadi pangkal keraguan dalam hati mereka

أ فمن أسس بنيانه على تقوى من الله ورضوان خير أم من أسس بنيانه على شفا جرف هار  فانهار به في تار جهنم  والله لا يهدى القوم الظالمين.  لا يزال بنيانهم الذي بنوا ريبة في قلوبهم  إلا أن تقطع قلوبهم  والله عليم حكيم.

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dhalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”  (QS At-Taubah/ 9: 109-110).

Meskipun banyak kelemahannya, namun karena pelontarnya itu adalah orang yang sudah kadung dianggap sebagai tokoh intelektual, maka dianggap sebagai pemikiran baru dan maju. Padahal sebenarnya jauh sekali dari kebenaran ilmiyah maupun kebenaran agama yang berdasarkan dalil/ nash ayat dan hadits.


Tokoh-tokoh Islam Liberal

Siapa sajakah yang mereka daftar sebagai Islam Liberal?
Dalam internet milik mereka, ada sejumlah nama. Kami kutip sebagai berikut:
“Beberapa nama kontributor JIL (Jaringan Islam Liberal, pen) adalah sebagai berikut :

  1. Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta.
  2. Charles Kurzman, University of North Carolina.
  3. Azyumardi Azra, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
  4. Abdallah Laroui, Muhammad V University, Maroko.
  5. Masdar F. Mas’udi, Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, Jakarta.
  6. Goenawan Mohammad, Majalah Tempo, Jakarta.
  7. Edward Said.
  8. Djohan Effendi, Deakin University, Australia.
  9. Abdullah Ahmad an-Naim, University of Khartoum, Sudan.   
  10. Jalaluddin Rahmat yang juga pentolan syiah di Indonesia, Yayasan Muthahhari, Bandung.
  11. Asghar Ali Engineer.
  12. Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
  13. Mohammed Arkoun, University of Sorbone, Prancis.
  14. Komaruddin Hidayat, Yayasan Paramadina, Jakarta.
  15. Sadeq Jalal Azam, Damascus University, Suriah.
  16. Said Agil Siraj, PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Jakarta.
  17. Denny JA, Universitas Jayabaya, Jakarta.
  18. Rizal Mallarangeng, CSIS, Jakarta.
  19. Budi Munawar Rahman, Yayasan Paramadina, Jakarta.
  20. Ihsan Ali Fauzi, Ohio University, AS.
  21. Taufiq Adnan Amal, IAIN Alauddin, Ujung Pandang.
  22. Hamid Basyaib, Yayasan Aksara, Jakarta.
  23. Ulil Abshar Abdalla, Lakpesdam-NU, Jakarta.
  24. Luthfi Assyaukanie, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta.
  25. Saiful Mujani, Ohio State University, AS.
  26. Ade Armando, Universitas Indonesia, Depok –Jakarta.
  27. Syamsurizal Panggabean, Universitas Gajahmada, Yogyakarta.
  28. Keluarga Syihab, diantara yang paling berbahaya adalah Quraiys Syihab, selain terindikasi liberal diantara pendapatnya adalah bahwa Jilbab itu hanya budaya Arab dan tidak wajib, dia juga pembela sekte kafir Syiah.

Dan masih banyak lagi, tokoh-tokoh libaral yang masuk kedalam dunia pendidikan ataupun politik. Mereka itu diperlukan untuk mengkampanyekan program penyebaran gagasan keagamaan yang pluralis dan inklusif. Program itu mereka sebut “Jaringan Islam Liberal” (JIL).

Diolah dari berbagai sumber oleh : Abu Zakir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s