Ulama, Mereka Tidaklah Ma’shum

pengkultusan ulama

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada zaman ini tersebar berbagai kelompok, madzhab dan jama’ah. Semua mengklaim sebagai pengusung kebenaran. Semua menuduh lawannya menjauhi kebenaran, batil, sesat, binasa, ahlu bid’ah dan lain-lain.

Semua orang mengaku kekasih Laila, namun ternyata tak diakuinya

Pada masa ini, di semua tempat, telah tersebar banyak perkara yang berhubungan dengan syubhat. Demikian, yang berhubungan dengan syubhat. Kita mendapati, mendengar dan melihat ada yang berfatwa membolehkan nyanyian. Yang lain membolehkan dalam kondisi tertentu. Yang lain lagi membolehkan ikhtilath, bahkan berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan mahram. Ada juga yang membolehkan cipika-cipiki antara pemuda pemudi. Dan masih banyak igauan lainnya.

Bahkan ada yang terlibat lebih dari itu. Ada orang yang membolehkan menyusui orang dewasa. Lebih parah dari itu lagi, mereka membolehkan berhukum kepada selain syariat Allah. Orang-orang itu menulis, inilah sosialisme Umar, itulah demokrasi Umar Radhiyallahu’anhu! Maha Suci Allah, kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya. La hawla wala quwwata illa billah. Bagaimana bisa mereka menisbahkan perkara besar yang termasuk pembatal keIslaman kepadanya (Umar)?! Akan tetapi semua orang bisa berkata-kata, semua orang bisa mengklaim. Saya ingin menulis buku berjudul: “Percaya Nggak Percaya”. Akan saya kumpulkan semua fatwa aneh dan meragukan itu. Ijtihad-ijtihad yang menakjubkan.

Wallahi, kami tidak percaya akan hidup pada masa ketika orang-orang ngomong sekehendaknya, menghalalkan dan mengharamkan menurut hawa nafsunya. Semua itu mengatasnamakan Dien dengan mencuri tanda tangan Rabb semesta alam.

Kita tidak membicarakan maksud, tujuan dan manhaj mereka. Diantara mereka ada seorang alim rabbani. Namun demikian, dia bukanlah ma’shum. kata-katanya bisa benar bisa salah. Sebagaimana Imam Malik imam darul hijrah rahimahullah berkata: “tidaklah perkataan kita itu kecuali menolak atau ditolak”. Demikianlah para ulama, mereka bisa salah bisa benar. MEREKA TIDAKLAH MA’SHUM. Kema’shuman sudah mati dan dikubur bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Ini satu macam ulama.

Ulama yang lain, ada macam ulama suu’. Ulama yang membeli ayat-ayat Allah dengan harga murah. Bermudahanah dan bergerak di dalam orbit para penguasa. La hawla wala quwwata illa billah. Tindakan mereka mengatakan: “Bermanis-mukalah dengan mereka selama kamu berada di negeri mereka. Carilah kerelaan mereka selama kamu berada di tanah mereka”. Merekalah orang-orang yang dikatakan padanya :

Diam itu lebih baik dari pada kata-kata manis mudahin, dengan batin najis namun kata-kata manis, Mengerti hakikat lalu condong, demi kerelaan dan ketakjuban thaghut keras kepala

Inilah macam ulama itu. Mungkin kalian bisa menemukannya di channel-channel televisi atau di radio.

Ada ulama jenis ketiga. Mereka tidak mempedulikan para penguasa, namun perhatian mereka adalah masyarakat umum. Mereka berfatwa, berkata-kata dan bertindak sesuai keinginan peminta fatwa. Mereka bermanis muka kepada khalayak dengan mengorbankan Dien. Dengan berbagai peristiwa, niat dan tujuan menjadikan sebagian ulama menyimpang dari berfatwa atas dasar Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Akan tetapi apa yang harus dilakukan seorang muslim mu’min muwahhid untuk menghadapi perkataan, pendapat, dan opini seperti ini yang didengarnya siang malam? Yang harus dilakukannya adalah seperti kalam Allah Ta’ala :

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (QS An Nisa : 59)

Ibnu Mas’ud berkata: “Jika engkau mendengar Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman” maka pasanglah telingamu. Karena isinya baik kebaikan yang engkau diperintahkan, atau keburukan yang engkau dilarang darinya”.

Para ulama berselisih tentang maksud “ulil amri”. Sebagian mereka berkata maksudnya adalah para ulama. Yang lain berkata maksudnya para pemimpin. Yang benar adalah seperti yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yaitu maksudnya adalah ulama rabbani dan pemimpin syar’i. Merekalah waliyyul amri.

Allah berfirman “dan ulil amri”. Perhatikanlah, Allah tidak berfirman taatilah Allah, taatilah Rasul (Nya) dan taatilah ulil amri. Allah tidak berfirman seperti itu, namun Dia berfirman “dan ulil amri“. Maka hal itu menunjukkan bahwa mentaati ulama rabbani dan pemimpin syar’i itu mengikuti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada mereka (ulama rabbani dan pemimpin syar’i) tidaklah berdiri sendiri. Sebagaimana sabda Rasul Shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits yang diriwiyatkan Muslim;

“Taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf saja”

Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad Rahimahullah dalam Musnadnya;

“Tidak ada ketaatan bagi makhluk yang mengajak bermaksiat kepada Allah”

Juga seperti kata-kata Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu dalam khutbahnya: “Ta’atilah aku selama aku mentaati Allah dalam (menunaikan hak) kalian. Jika aku bermaksiat maka tidak ada ketaatan kepadaku atas kalian.

Demikianlah ketaatan itu mengikuti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana kalam Allah Ta’ala pada sisa ayat ini;

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). (QS An Nisa : 59)

Disini Allah tidak berfirman “dan ulil amri diantara kalian” sebagaimana awal ayat. Kenapa? karena Allah Ta’ala tidak akan memberikan solusi khilaf dengan kembali kepada khilaf lagi. Jika kita kembali kepada ulama niscaya Syi’ah akan merujuk pada ulama mereka, Mu’tazilah akan merujuk kepada ulama mereka, Jahmiyah, Khawarij, Murji’ah juga demikian. Kita tidak akan mendapatkan solusi sedikitpun. Maka kepada siapa mengembalikan perselisihan? “Kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)”

Demikianlah seharusnya seorang muslim meletakkan kalam Allah dan sabda Rasul-Nya di depan perkataan siapapun juga. Allah berfirman;

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (QS Al Ahzab : 36)

Tidak demi Allah. Kita tidak akan memilih setelah mendengar kalam Allah dan sabda Rasul-Nya sebagus, seterkenal dan seindah apapun perkataan itu. Kita tidak menerima kecuali Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam.

Allah berfirman;

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS An Nuur : 63)

Imam Ahmad Rahimahullah berkata: “Tahukah kalian apa fitnah itu? Fitnah itu adalah syirik. Jika dia meninggalkan sebagian sabdanya Shallallahu’alaihi wasallam maka akan menyimpang, dan celakalah dia”. Kita berlindung kepada Allah agar tidak celaka akibat menolak hadits Rasul Shallallahu’alaihi wasallam.

Maka seorang muslim itu terikat dan taat dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dia tidak menentangnya. Tidak mengedepankan perkataan siapapun, tidak jama’ahnya, tidak seorang mursyid, tidak seorang mufti, ‘alim, imam, penguasa, atau pemimpinnya.

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda;

“Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin sepeniggalku, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham” (HR Turmudzi)

Syaikhain (dua syaikh, Bukhari dan Muslim -ed) meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda:

“Barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan bagian dariku” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam hadits tersebut Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa barangsiapa yang membenci sunnahnya maka bukan bagian darinya dan dari ummatnya. Beliau Shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda yang semakna dengan itu:

Semua manusia masuk surga kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya: “Siapa yang enggan wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Siapa yang mentaatiku maka akan masuk surga, siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia telah enggan”. Nabi Shallallahu’alahi wasallam tidak bersabda barangsiapa mentaati Abu Hanifah maka akan masuk surga, siapa yang bermaksiat kepadanya maka telah enggan. Beliau juga tidak bersabda siapa mentaati Malik masuk surga, siapa bermaksiat kepadanya dia telah enggan. Tidak juga bersabda siapa mentaati Syafi’i masuk surga, siapa bermaksiat kepadanya maka telah enggan. Dan juga tidak bersabda siapa mentaati Ahmad masuk surga, siapa bermaksiat kepadanya maka telah enggan. Namun -demi bapak ibuku- beliau bersabda: “Siapa yang mentaatiku maka akan masuk surga, siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia telah enggan”. Semoga Allah melindungi saya dan anda sekalian dari membenci sunnah Rasul-Nya dan syariat lainnya.

Diriwiyatakan oleh Imam Bukhari bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat”

Perhatikan, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam tidak bersabda shalatlah kalian seperti kalian melihat Syaikh Al Albani shalat. Maka kita shalat sebagaimana shalatnya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, sebagaimana (sampai kepada kita) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim, An Nasa’i rahimahumullah. Beliau Shallallahu’alaihi wasallam tidak bersabda ambillah manasik kalian dari Syaikh Bin Baz. Namun beliau bersabda:

“Ambillah dariku manasik haji kalian”

Demikianlah seharusnya dalam seluruh syariat kita mengikuti Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Apalagi jika sabdanya bertentangan dengan perkataan orang, siapapun itu. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab rahimahullah, dan semoga Allah meridhainya, ayahnya, dan kakeknya, bahwa Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhuma berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian cegah hamba-hamba Allah (istri dan putri) dari masjid-masjid Allah”. Salim berkata: “Bilal -saudara Salim, putra Abdullah bin Umar- berkata: “Demi Allah kami akan mencegah mereka -beliau berkata demikian setelah mendengar sabda Rasul tersebut karena cemburu-. Salim Rahimahullah berkata: “Abdullah bin Umar langsung mencaci-makinya, saya tidak pernah mendengarnya mencaci seperti itu”. Beliau (Ibnu Umar) berkata: “Saya katakan kepadamu hadits Rasulullah lalu kamu berkata demi Allah kami akan mencegah mereka? Saya tidak akan berbicara kepadamu selamanya”. Maka Ibnu Umar tidak pernah berbicara kepadanya sampai meninggal.

Demikian juga Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu’anhu bahwa beliau melewati seseorang sedang yahdzif, yaitu melempar batu dengan jarinya (seperti bermain kelereng -ed), maka beliau berkata kepadanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang al hadzf”. Kemudian dilain waktu beliau kembali menemukannya bermain kelereng. Maka beliau berkata: “Saya katakan kepadamu bahwa Rasulullah melarang itu, lalu kemudian kamu masih saja bermain kelereng? Demi Allah saya tidak akan berbicara lagi kepadamu”.

Imam Suyuthi meriwayatkan dua atsar ini dalam kutaibnya yang bagus yang berjudul “Az Zajru bil Hajr (Mengingatkan Dengan Menghajr)”. Demikanlah orang yang menolak sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dihajr (boikot -ed). Baik dia menolak karena perkataan seorang alim, atau karena pendapatnya sendiri, atau hawa nafsunya. La hawla wala quwwata illa billah.

Imam Turmudzi meriwayatkan dari Imam Waqi’ -guru Imam Syafi’i dan Imam Ahmad- bahwa suatu ketika beliau berada dalam majelisnya. Ketika itu majelisnya dihadiri oleh salah seorang ahlu ra’yi (madzhab Abu Hanifah yang diikuti sebagian besar penduduk Irak ketika itu dikenal sebagai madzhab ahlu ra’yi -ed). Imam Waqi’ bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melakukan isy’aar (al isy’aar yaitu menandai hewan kurban dengan melukai kulit punuknya -ed). Orang itu berkata: “Akan tetapi teman kalian ini (maksudnya Abu Hanifah -ed) berpendapat bahwa al isy’aar itu mutslah (penyiksaan dengan mencincang -ed). Kemudian orang itu melanjutkan: “Telah datang dari Ibrahim An Nakha’i -sedangkan beliau termasuk pembesar tabi’in- bahwasanya dia berkata: “Isy’aar itu mutslah”. Imam Waqi’ pun marah besar dan berkata kepadanya: “Aku katakan kepadamu sabda Rasulullah, namun engkau lantas berkata Ibrahim berkata demikian! Engkau sungguh sangat pantas dipenjara dan tidak dibebaskan selamanya hingga engkau mencabut kata-katamu ini!”.

Demikianlah tindakan atas orang yang mendahulukan pendapat orang dan menolak sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. La hawla wala quwwata illa billah. Lebih dari itu, tahukah kalian apa yang dikatakan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu’anhuma sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Ibnu Abdil Barr Al Maliki dalam Al Jami’, Ketika Ibnu Abbas -dan beliau adalah turjuman Al Qur’an dan tintanya ummat- berselisih dengan sebagian sahabat dalam suatu masalah, beliau berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda demikian. Namun mereka membantah dan berkata Abu Bakar dan Umar berkata demikian. Ibnu Abbas pun marah besar dan berkata: “Hampir-hampir kalian dihujani batu dari langit. Aku katakan bahwa Rasulullah telah bersabda demikian, kalian malah berkata Al Qaradhawi berkata demikian, At Thanthawi berkata demikian, bukan, beliau tidak berkata begitu. Akan tetapi beliau berkata “aku katakan bahwa Rasulullah bersabda demikian, kalian malah berkata Abu Bakar dan Umar berkata demikian”.

Perhatikanlah. Syaikh Allamah Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata: “Perhatikan perkataan Ibnu Abbas terhadap orang yang mendahulukan perkataan Abu Bakar dan Umar. Sedangkan keduanya telah diketahui kedudukan dan ilmunya. Namun demikian perkataan keduanya tidak didahulukan atas sabda Rasul Shallallahu’alaihi wasallam ketika terjadi pertentangan. Sabda Rasul Shallallahu’alaihi wasallam didahulukan daripada perkataan siapapun.”

Diriwayatkan dari Imam Syafi’i rahimahullah bahwa suatu ketika beliau diberitahu dengan suatu hadits dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Para sahabatnya bertanya: “Apakah engkau akan mengambil ini wahai Imam? Imam Syafi’i marah dan wajahnya berubah sembari berkata: “Apakah menurut kalian saya keluar dari gereja? Apakah kalian melihat saya memakai sabuk? Kalian bertanya apakah saya akan mengambil hadits itu?! Tentu saja! Bahkan setiap orang yang sampai kepadanya suatu hadits Nabi harus mengambilnya.”

Imam Syafi’i menyebutkan dalam Ar Risalah hlm. 450, berkata: “Telah mengabarkan kepada kami Abu Hanifah bin Samak Asy Syihabi rahimahullah berkata: “Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b dari Al Maqbari dari Abi Syuraih Al Katsmi bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda pada hari Fathu Makkah: “Barangsiapa yang keluarganya terbunuh maka dia bisa memilih antara dua hal, diyat atau qishash”. Maka Abu Hanifah -As Samak, bukan An Nu’man (nama Imam Abu Hanifah adalah An Nu’man bin Tsabit -ed)- bertanya kepada Ibnu Abi Dzi’b: ‘Apakah engkau akan mengambil hadits ini wahai Abu Harits? Imam Ibnu Abi Dzi’b marah dan langsung memukul dada Abu Hanifah sembari berkata: “Saya sampaikan kepadamu sabda Rasulullah, namun engkau malah bertanya apakah saya akan mengambilnya?! Tentu saja! Wajib bagi setiap muslim untuk mengambilnya!”.

Demikianlah ketundukan kepada hadits Rasululllah Shallallahu’alaihi wasallam. Demikianlah penyerahan diri kepada syariat Allah secara sepenuhnya. Telah diriwayatkan dari para imam rahimahumullah bahwa mereka berkata jika ada hadits shahih maka itulah madzhabku. Inilah Imam Syafi’i rahimahullah berkata jika mereka menyebutkan hadits dan sunnah maka perhatikan dan tunduklah, namun jika mereka menyebutkan pendapatnya sendiri maka lempar saja ke WC. Pun demikian Imam Syafi’i rahimahullah berkata bahwa apa saja perkataan yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah maka buang dan kencingi saja. Maksudnya bukan menghina ulama, namun perkataan itu menyelisihi sabda Nabi atau kalamullah Ta’ala. Juga sebagai penghormatan dan pengagungan kalamullah dan sabda Rasul.

Imam Abu Hanifah berkata jangan kalian tulis apa-apa yang dari kami kecuali kalian dapati ada di dalam Kitabullah dan Sunnah. Juga beliau berkata apa yang datang dari Allah maka kami perhatikan dan kami tunduk, apa yang datang dari Rasul maka kami perhatikan dan tunduk, apa yang datang dari sahabat juga demikian, namun apa yang datang dari tabi’in maka kami laki-laki dan merekapun laki-laki.

Imam Malik, imam darul hijrah rahimahullah berkata: “Semua orang bisa diambil dan ditolak perkataannya kecuali ahli kubur ini, dan beliau menunjuk kepada kubur Nabi Shallallahu’alaihi wasallam”.

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Tidak ada seorangpun -perhatikan, setinggi apapun ilmunya- kecuali pasti telah disentuh oleh sunnah dari sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Wajib bagi setiap (muslim) yang telah sampai kepadanya sunnah Rasul untuk mengikutinya, sekalipun orang-orang menyelisihi.”

Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal, telah banyak perkataan diriwayatkan darinya dalam bab ini. Beliau berkata janganlah kalian bertaqlid kepadaku, atau kepada Malik, Syafi’i, atau Al Auza’i. Ambillah dari sumber yang mereka ambil, dari mata air yang suci itu.”

Beliau juga berkata: “Saya heran dengan orang yang mengetahui sanad yang shahih dari yang dha’if, bagaimana bisa dia bertaqlid kepada Abu Sufyan?” Sedangkan Abu Sufyan adalah orang yang Imam Ahmad berkata tentangnya: “Demi Allah, tidak ada seorangpun yang melebihi kedudukan Abu Sufyan di dalam hatiku”. Meskipun demikian, meskipun kecintaannya begitu besar kepadanya, namun jika kebenaran bertentangan dengan perkataan makhluk maka kecintaan akan kebenaran lebih diutamakan daripada kepada makhluk. Demikianlah adanya para salaf rahimahumullah.

Demikianlah adanya para ulama rahimahumullah. Mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya. Mereka laksanakan perintah Allah Azza wa jalla dalam kalam-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (QS Al Hujurat : 1)

Janganlah kamu mendahulukan perkataan seorang alim, atau seorang imam, mursyid, mufti, jama’ah dan lain-lain dari kalam Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam.

Berkata Abu Hanifah sang Imam, tidak patut bagi seorang muslim mengambil kata-kataku jika bertentangan dengan kitab dan hadits yang diridhai Malik, Imam darul hijrah berkata sembari menunjuk pada kamar itu setiap kata ditolak dan diterima kecuali Rasul Tak kalah juga Syafi’i berkata jika kalian lihat kata-kataku menyelisihi hadits pukulkan saja ke tembok kata-kataku itu Dan Ahmad juga berkata jangan tulis kata-kataku tapi mintalah dari sumber mereka Janganlah dienmu bertaqlid pada orang-orang sampai engkau tahu mana yang paling kuat.

Demikian yang dapat saya katakan, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad dan seluruh keluarga serta sahabatnya.

………….

Dalam khutbah ini kami tidak bermaksud mencela ulama, mencaci, menghinakan atau merendahkan wibawa mereka. Namun kami tidak mengkultuskan ulama. Ketika kita tidak mendahulukan perkataan siapapun juga atas kalam Allah dan sabda Rasul-Nya bukan berarti merendahkan ulama, namun sebagai pengagungan dan penghormatan terhadap Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abdil Barr dalam Al Jami’: “Janganlah kalian mengikuti sunnah orang-orang (betapapun kedudukan mereka)”

Imam Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah juga meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bahwa beliau berkata: “Janganlah engkau bertaqlid kepada orang-orang dalam dienmu”. Ibnu Mas’ud juga berkata: “Janganlah sekali-kali kalian menjadi penjilat”. Mereka bertanya: “Apa maksudnya wahai Abu Abdurrahman? Ibnu Mas’ud berkata: “Jika orang-orang mendapat petunjuk engkaupun mendapat petunjuk, dan jika mereka sesat engkaupun ikut sesat”. Kita berlindung kepada Allah. Demikianlah penjilat di zaman kita ini, la hawla wala quwwata illa billah. Oleh karena itu tidak seharusnya mendahului kalam Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam.

Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Tauhidnya membuat sebuah bab dengan tema barangsiapa yang menta’ati ulama dan umara dalam menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka sungguh telah menjadikan mereka Rabb-Rabb tandingan selain Allah. Kemudia beliau menyebutkan kalam Allah Ta’ala:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. (QS At Taubah : 31)

Imam Turmudzi rahimahullah meriwayatkan dalam Sunannya dari Adi bin Hatim At Tha’i radhiyallahu’anhu -dahulu beliau adalah seorang Nashrani lalu masuk Islam-, ketika dia mendengar Nabi shallallahu’alaihi wasallam membaca ayat ini dia terheran-heran, karena dia membatasi ibadah hanya pada ruku’ dan sujud saja. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, mereka tidak mengibadahi pendeta dan rahib-rahibnya.” Rasulullah bersabda: “Bukankah mereka menghalalkan untuk umatnya apa yang Allah haramkan? Bukankah mereka mengharamkan atas umatnya apa yang Allah halalkan? Adi berkata: “Betul”. Rasul bersabda: “Itulah peribadahan mereka.”

Maka janganlah sekali-kali mendahului Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana telah disebutkan, kita tidak merendahkan atau mengurangi kedudukan para ulama yang mulia lagi penuh keutamaan rahimahumullah. Hanyasanya maksudnya adalah kita tidak mendahulukan perkataan mereka jika bertentangan dengan kalam Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam.

Kita bukanlah Rafidhah yang mengkultuskan ulama mereka, yang melihat ulamanya ma’shum. Kita bukanlah sufi yang berkata jadilah engkau dihadapan syaikhmu seperti jenazah ditangan yang memandikannya, jika dibalik kekanan maka ikut kekanan dan jika dibalik kekiri maka ikut kekiri. Orang-orang sufi yang mereka berkata janganlah engkau mengkritik sehingga engkau terusir. Yang mereka berkata jika engkau melihat ada seorang wanita cantik menemui syaikhmu maka segera panaskan air untuk mandi. La hawla wala quwwata illa billah. Maka hendaknya setiap diri berhati-hati agar tidak menjadi penjilat seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud.

Betul kita harus bertanya kepada para ulama, betul kita harus kembali kepada para ulama, dan betul kita harus berkumpul disekeliling ulama. Namun mereka itu harus seperti kalam Allah Ta’ala:

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. (QS An Nahl : 43-44)

Mereka disebut sebagai ahlu dzikri. Adz Dzikru adalah Al Qur’an. Maka ketika mereka dimintai fatwa mereka berfatwa dengan kalam Allah dan sabda Rasul-Nya, dengan keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Bukan dari ijtihad atau pendapat mereka. Adapun yang berupa pendapat belaka maka bisa diterima dan ditolak, apalagi jika menyelisihi kalam Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam.

Ringkasnya adalah bahwa perkataan ulama tidak menjadi dalil atas satu dan lainnya. Ketika engkau berkata padanya Ar Rahman berfirman dia malah berkata mungkin saja, ketika engkau katakan sabda Rasul dia membalas barangkali ini dan itu. Namun ketika engkau katakan Al Fauzan berkata demikian dia langsung menjawab sami’na wa atha’na. Ketika engkau katakan Al Lahidan berkata demikian dia menjawab siap, sembari hendak ruku’ atau sujud. La hawla wala quwwata illa billah. Maka seorang muslim adalah orang yang tunduk penuh pada kalam Allah dan sabda Rasul-Nya, sekalipun penduduk bumi menyelisihinya.

Ya Allah tunjukilah kaum muslimin yang tersesat.

Ya Allah tampakkanlah kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Ya Allah tampakkanlah kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah tolonglah hamba-hambamu para mujahidin di segala penjuru dimana mereka berpijak dan beratapkan langit.

Ya Allah hancurkanlah Nushairiyah dan antek-anteknya, Komunisme dan antek-anteknya, serta USA dan hamba-hambanya. Allahumma Amin.

والحمد لله رب ِّ العالمين

 

Syaikh Abu Humam Al Atsari Turki bin Mubarak Al Bin’ali –Hafidzahullah-

Petikan Transkrip Khutbah Jum’at di Masjid Rabat, Sirte, Libya,

Berjudul : Pengkultusan Ulama

Alih bahasa: Team Relawan Terjemah Arab hafidzahulloh ajma’in

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s