Antara Syari’at vs Adat, Seruan Untuk Kembali Kepada Al-Qur’an & As-Sunnah

syariat dan Adat

Bolehkah memahami Islam secara konseptual?? Dan apakah syari’at Islam yang mengikuti zaman, ataukah zaman yang harus mengikuti syariat Islam?

Bismillahirrahmanirrahim .. Konseptual dalam memahami Islam adalah mencoba menyesuaikan ajaran Islam dengan menghalalkan segala cara, dan mencampur adukkan kebudayaan, adat istiadat, serta gaya hidup manusia pada umumnya agar bisa lebih diterima oleh seluruh masyarakat Islam pribumi. Ini pula yang dimaksud dengan ajaran Islam yang mengikuti alur zaman modern.

Adat istiadat dan budaya yang dianggap sebagai tradisi yang telah mendarah daging di dalam kehidupan sebagian masyarakat negeri ini menurut sejarah, sebagai warisan baik dari kultur nenek moyang manusia primitif dengan kepercayaannya pada animisme dan dinamisme, kemudian dari agama para leluhur sebelum datangnya Islam yang membawa agama tauhid.

Berbagai tradisi yang berasal dari masyarakat jahiliyah dari generasi ke generasi terus dipertahankan dan malah ditumbuh kembangkan dengan dalih melestarikan adat budaya bangsa. Dan agar nampak seperti tradisi Islam, maka diberi hiasan dan label Islam seperti dimasukkannya doa-doa bercirikan Islam.

Sehingga tanpa disadari oleh masyarakat awam bahwa tradisi dari adat istiadat dan budaya yang selama ini dilakoni oleh mereka merupakan sesuatu yang tidak sesuai dan bertentangan dengan syari’at Islam. Karena didalamnya kalau tidak mengandung kesyirikan, pasti ia mengandung kebid’ahan.

LOGIKANYA … Apakah aturan Allah yang harus mengikuti gaya hidup manusia ataukah sebaliknya?? Apakah yang membuat aturan harus mengikuti kemauan orang yang diatur?

Maka perlu dipahami bahwa syari’at Islam yang berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah itu adalah wasiat Rasulullah yang harus kita jadikan pedoman atau pegangan hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”. (HR. Malik, al-Hakim, Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm)

Dan dipetik dari dalam sebuah hadits, “Berpeganglah kepada sunnahku dan sunnah khulafa’ ar-Rasyidin yang lurus, gigitlah dengan gigi gerahammu”. (Penggalan hadits al-Washiyah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudzi, hadits no. 28 Arba’in Nawawiyyah).

Telah disebutkan bahwa kita harus berpegang teguh padanya, dengan arti lain bahwa kita harus fanatik kepada Islam mengenai syari’at, serta WAJIB FANATIK pada Al-Qur’an dan Sunnah, yang mana kita yakini bahwa keduanya adalah sumber yang mutlak kebenarannya.

Al-Qur’an dan Sunnah ini harus kita jadikan sebagai rujukan utama, sebagaimana Islam ini sendiri adalah rahmatan lil ’aalamiin. Yang berarti sebuah pedoman yang menuntun seluruh umat manusia disetiap zaman dan wilayah.

Dengan begitu akan rontoklah kebudayaan-kebudayaan dan adat istiadat nenek moyang yang mengandung unsur kesyirikan. Sebab syirik adalah musuh utama umat Islam, dan syirik adalah kunci utama masuk neraka. Maka bersihkanlah dengan tauhid yang lurus, karena tauhid adalah kunci utama masuk ke dalam Surga.

Beranjak dari situlah, kurang tepat bila kita menyebutkan bahwa syari’at Islam harus lebih fleksibel sehingga diperlukan penyesuaian dengan budaya agar Islam bisa lebih diterima, dengan dalih karena Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin.

Sebetulnya apa itu rahmatan lil ‘aalamiin (Rahmat Bagi Seluruh Alam)??

Perlu diketahui bila kita menyebutnya bahwa syariat Islam bisa disejajarkan dengan budaya nenek moyang karena rahmatan lil ‘aalamiin nya, maka akan hilanglah ajaran Islam itu sendiri. Lalu bila kita mengira rahmatan lil ‘aalamiin itu identik dengan kelembutan atau toleransi antar agama, maka Rasul itu keras terhadap Kafir, dan lembut kepada Muslim, serta berjihad dijalan Allah.

Pernyataan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah Ta’ala,

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia”. (QS. Al-Anbiya’ 21 : 107)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia. Allah berfirman,

“Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan membawa hukum-hukum syariat, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia tanpa ada keadaan atau alasan khusus yang menjadi pengecualian”. Dengan kata lain, ‘satu-satunya alasan Kami mengutusmu, wahai Muhammad, adalah sebagai rahmat yang luas. Karena kami mengutusmu dengan membawa sesuatu yang menjadi sebab kebahagiaan di akhirat”.

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna ayat ini, tentang apakah seluruh manusia yang dimaksud dalam ayat ini adalah seluruh manusia baik mukmin dan Kafir? Ataukah hanya manusia mukmin saja? Sebagian ahli tafsir berpendapat, yang dimaksud adalah seluruh manusia baik mukmin maupun Kafir. Mereka mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbasradhiallahu ’anhu dalam menafsirkan ayat ini:

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang besar”.

Itulah sekilas tentang makna rahmatan lil ‘aalamiin.

Teks dalam Al-Qur’an dan Sunnah (hadits) harus kita ketahui dan pahami betul-betul, apa yang diinginkan dan yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya pada dua rujukan tersebut.

Oleh karena itu, dengan adanya tafsir Al-Qur’an dan Sunnah (hadits) adalah agar kita dapat memahami isi dari keduanya sesuai dengan pemahaman Rasul dan para sahabatnya, supaya kita pun tidak dengan mudahnya merubah maksud kajian tertentu yang tertera didalamnya.

Mungkinkah diam-diam kita bisa merubah pedoman agama, Agar agama ini berjalan seenak yang kita inginkan? Seperti yang dilakukan Nasrani terhadap kitab INJIL yang dapat mereka ubah sekehendaknya dan diganti kemurniannya dengan kemauan mereka?? Na’udzu Billah min Dzalik..

Akan tetapi bila kita mencoba memahami maksud ajaran Islam dengan cermat, sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah akan ada hikmah yang berkaitan didalamnya, yang mana hikmah itu adalah nikmat, karena lagi – lagi kita terhindar dari bahaya efeknya.

Contohnya Islam telah mengharamkan daging babi. Mengapa Allah dan Rasul-Nya melarang kita untuk mengkonsumsi babi?

Ternyata menurut penelitian ilmiyah, Prof. A.V. Nalbandov (Penulis buku : Adap-tif Physiology on Mammals and Birds) menyebutkan bahwa kantung urine babi sering bocor, sehingga urine babi merembes ke dalam daging. Akibatnya, daging babi tercemar kotoran yang mestinya dibuang bersama urine. Di dalam tubuh babi pula, terdapat virus AI (H1N1 dan H2N1) yang semula tidak ganas, tapi bermutasi menjadi H1N1/H5N1 yang ganas/mematikan dan menular ke manusia.

Bayangkanlah jika Allah tidak mengharamkan babi, maka akan ada berapa umat Ilam yang terkena efek bahaya dari virus babi tersebut? MasyaAllah.. Bahkan ada sebagian kaum Nasrani, Yahudi, dan Majusi pun mengikuti umat Islam dari segi halal dan haramnya makanan.

Zahirnya Kini Al-Qur’an memang masih utuh secara teks, tetapi eksistensinya sebagai pedoman hidup telah lama hilang, dan terlupakan. Jika dibiarkan terus seperti itu maka Islam akan menjadi sebuah ajaran normatif belaka, tanpa ada pengaruh pada kehidupan manusia. Padahal yang sebenarnya ajaran Islam adalah penuntun kehidupan manusia disetiap zaman dan wilayah sampai hari kiamat.

Ada orang yang mengatakan bahwa ajaran Islam sudah tidak relevan, karena ada unsur budaya arab yang kuno. Sejatinya Agama Islam adalah untuk seluruh manusia dan berlaku sampai hari kiamat.

Dengan Islam kita diajarkan cara hidup yang sehat, cara hidup yang baik dan diajarkan adab kesopanan. Islam bukan hanya budaya Arab saja, meskipun Islam turun di Arab, tetapi ajaran Islam berlaku untuk seluruh manusia di alam dunia ini.Justru ajaran nenek moyang terdahulu lah yang mengandung unsur budaya syirik yang kuno.

Contohnya, dari dulu masyarakat yang hidup dengan mata pencaharian sebagai petani selepas dari panen dan menjelang musim tanam yang baru, mereka menyelenggarakan pesta sedekah bumi dengan menyelenggarakan keramaian berupa pertunjukan wayang semalam suntuk.

Didalam pesta sedekah bumi tersebut penduduk menyiapkan berbagai rupa sesajen. Dipersembahkan oleh penduduk kepada yang mereka sebut sebagai roh halus atau jin penguasa bumi sebagai bentuk rasa terimakasih karena telah memberikan hasil bumi kepada mereka serta berharap hasil bumi yang mereka usahakan akan berlipat ganda, selain itu juga agar penduduk terhindar dari berbagai bentuk bencana.

Apakah mereka lupa dengan Rabbnya? Sungguh ini adalah budaya syirik yang kuno.

Maka dengan ini kami menghimbau kepada teman-teman untuk menjauhi pemahaman budaya syirik, dengan cara memahami syari’at Islam sesuai ilmu dan kaidah Islamiyyah yang sesuai dengan Ahlusunnah wal jama’ah,

juga mengambil pendapat dari ijma ulama-ulama salaf, yang tidak menjual fatwa agamanya dengan tahta duniawinya.

Kita ketahui dalam hadits disebutkan: “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in)”. (Muttafaqun ‘alaih)

Maksudnya ketika kita mengkaji ilmu dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, akan tetapi ada hal yang tidak mampu kita fahami maknanya, maka dahulukanlah mengambil reverensi dari para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in untuk lebih diperluas dan diperjelas lagi. Karena mereka adalah ulama salafush-shalih, yang mana ijtihad mereka lebih dekat pada kebenaran.

Jangan lagi berdebat, Marilah kita Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah… Wallahu A’lam…

Oleh : Zhafira Ali

Sumber : Manjanik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s