Bendera-bendera Jahiliyyah, Dalam Lembaran Sejarah

Bendera Jahiliyyah

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada saat sejumlah faksi militer di negeri yang disebut dengan “Arab Spring (Revolusi Arab)” mengibarkan bendera-bendera yang berasal dari jahiliyyah, dan disebabkan beberapa pengklaim jihad mengizinkan dan membenarkan mereka untuk mengibarkannya di daerah-daerah yang dianggap telah mereka kuasai, bahkan mendukung para pembawa bendera-bendera ini di antara tentara Shahwat murtad melawan Daulah Islam, maka penting untuk memberikan penjelasan kepada umat Islam mengenai sejarah di balik bendera-bendera ini.

Asal historis dari bendera “Arab Spring” tersebut – bahkan kebanyakan bendera tersebut dibawa oleh berbagai rezim Arab murtad – bermula dari sebuah bendera yang dirancang oleh tentara salib Inggris Mark Sykes. Ya, Mark Sykes, si pencetus Perjanjian Sykes-Picot yang telah memecah belah negeri-negeri Muslim ke dalam negara-negara nasionalis, orang yang sama yang mempromosikan Deklarasi Balfour yang terkenal, yang menjadi latar belakang berdirinya negara Yahudi.

Mark Sykes

Warna hitam dipilih untuk merepresentasikan Daulah ‘Abbasiyyah, putih mewakili Daulah ‘Umayyah, hijau mewakili Daulah ‘Ubaidiyyah (Fathimiyyah), dan merah merepresentasikan mendiang “Syarif”[1], pemimpin Hijaz. Dalam simbolisasi ini, dia mencampurkan antara kekhalifahan Islam, Isma’iliyyah murtad, dan agen-agen murtad. Dia harus memberikan kepada pengikut Arabnya sesuatu yang bersifat simbolik, historis, materiil, dan ciri khas Arab agar mereka mau mendukungnya. Bendera jahiliyyah ini menjadi bendera bagi apa yang disebut “Arab Revolt” yang telah dirancangnya. Bendera tersebut awalnya dibuat di Mesir oleh Militer Inggris untuk dikibarkan oleh sekutu-sekutu mereka.

Sekutu-sekutu Sykes yang berasal dari kaum nasionalis Arab memanfaatkan baris-baris syair yang ditulis oleh Shafiyuddin Al-Hilli – wafat tahun 750 H – untuk mengabsahkan simbol-simbol jahiliyyah ini. Al-Hilli mengatakan, “Amal-amal kami putih, perang-perang kami hitam, tanah-tanah kami hijau, dan pedang-pedang kami merah. Tidak diragukan lagi, baris syairnya ini ditulis ratusan tahun sebelum “Arab Revolt”.

Sykes, beserta rekan-rekan dan pemimpin-pemimpinnya, memikirkan sebuah rencana untuk membagi-bagi lebih lanjut negeri-negeri Muslim yang telah hancur ke dalam negara-negara nasionalis. Negeri-negeri Muslim telah dicemari oleh berbagai kubah-kubah pagan (untuk penyembah kuburan) dan dikotori oleh hukum-hukum buatan manusia oleh para penguasa ‘Utsmaniyyah, terutama dalam dua abad terakhir sebelum akhirnya kekuasaannya runtuh. Kondisi yang lemah ditambah dengan politik turkifikasi – yang dipromosikan oleh nasionalisme Turki dan mengurangi penggunaan Bahasa Arab – membantu Sykes dan sekutusekutunya dalam mempromosikan “Arab Revolt”.

Orang-orang Inggris mulai bernegosiasi dengan Al Husain ibnu ‘Ali[2] (“Syarif” Hijaz – wafat 1350H /1931 M) untuk memberontak dan mendeklarasikan sebuah negara Arab nasionalis yang merdeka. Al-Husain ibnu ‘Ali memberontak melawan mantan tuannya Turki ‘Utsmani dan mendeklarasikan dirinya sendiri, atas izin Inggris, “Sultan untuk Negeri-negeri Arab” dan “Khalifah” bagi sebuah “khilafah” nasionalis yang didirikan para salibis! Dia tidak mengobarkan jihad di jalan Allah untuk melenyapkan hukum-hukum  buatan manusia dan kubah-kubah pagan dari negeri-negeri Muslim dan kemudian mendirikan sebuah kekhilafahan yang syar’ī. Akan tetapi, justru dia berperang semata-mata untuk menyatukan negeri-negeri “Arab” itu sendiri di bawah sebuah “khilafah” nasionalis yang akan berkuasa, namun di bawah perintah tuan-tuan salibis barunya.

Syarif Husain

Selama berlangsungnya berbagai pertempuran ini, dia dan putera-puteranya memimpin “Arab Revolt”. Pasukan mereka ditemani dan didukung oleh tentara salib Inggris, termasuk di antaranya Kolonel Cyril Wilson, Kolonel Pierce C. Joyce, Letnan Kolonel Stewart Francis Newcombe, Herbert Garland, dan Kapten T.E Lawrence (yang kemudian disebut “Lawrence of Arabia”). Tentara salib Prancis diantaranya adalah Kolonel Edouard Bremond, Kapten Rosario Pisanim, Claude Prost, dan Laurent Depui, dan orang-orang Prancis murtad seperti Kapten Muhammad Ould Ali Raho. Inggris bahkan ikut masuk dengan mengerahkan angkatan laut dan angkatan udaranya agar Al-Husain dan putra-putranya lebih unggul dalam melawan seteru-seterunya. Al Husain dan putra-putranya secara seksama mematuhi perintah-perintah yang didiktekan oleh tentara salib Inggris sebagai jaminan bagi dukungan kepada mereka. Akhirnya Inggris mengangkat mereka menjadi raja atas Suriah, Yordania, Irak, dan Hijaz. Thaghut Yordania yang sekarang merupakan keturunan dari keluarga yang sama ini.

Keluarga Al-Husain dengan cepat kehilangan Suriah yang direbut oleh Prancis (salah satu mantan sekutu mereka), Irak direbut oleh nasionalis Arab lainnya yang lebih “ideologis”, dan Hijaz oleh murtaddin yang disokong Inggris, ‘Abdul ‘Aziz ibnu Sa’ud dan putra-putranya. Inggris menyadari bahwa ‘Abdul ‘Aziz dan putra-putranya tidak dapat dan tidak akan pernah menyeru untuk memperluas kerajaan mereka di luar wilayah yang telah ditentukan oleh tentara salib di bawah klaim sebuah “khilafah”, berbeda dengan Al-Husain dan putra-putranya – dikarenakan silsilah Quraisy mereka – yang senang dengan gagasan sebuah “khilafah”, walau itu sebenarnya hanyalah sebuah negara nasionalis yang didirikan oleh pasukan salibis. Dengan demikian, Inggris sendiri mengkhianati “khilafah” nasionalis yang sebelumnya pernah mereka dukung

Berbagai rezim boneka murtad yang didirikan oleh tentara salib setelah masa kolonial ini memiliki versi modifikasi dari bendera pertama yang dirancang Mark Sykes, terkadang menggunakan tiga dari empat warna asal. Bendera “Arab Revolt” adalah induk dari bendera-bendera yang sekarang ini mewakili berbagai negara nasionalis Arab, di antaranya Aljazair, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Libya, Sudan, Suriah (baik milik rezim dan revolusi), Uni Emirat Arab, Yaman, dan Palestina, berbagai gerakan nasionalis Arab di wilayah Somalia, Maroko, Mali, dan Iran, sebagaimana juga Partai Ba’ats yang murtad dan “tentara” murtad Naqsyabandi mereka.

Bendera-bendera jahiliyyah ini intinya merepresentasikan salibis, agen-agen murtad mereka, nasionalisme Arab, dan thaghut-thaghut boneka yang setia kepada kaum salib. Sejarah singkat ini seharusnya menghasilkan sejumlah pelajaran :

  1. Orang-orang salib tidak memiliki masalah untuk menyanjung sekutu-sekutu mereka dengan menyebarkan simbol “Islam” atau memperbolehkan sekutu-sekutu mereka untuk melakukannya, asalkan telah dicemari dengan sejumlah paham nasionalisme.
  2. Orang-orang salib mengandalkan strategi “memecah-belah dan menaklukkan”. Mereka menghancurkan negeri-negeri Muslim melalui nasionalisme, keberpihakan, dan bentuk-bentuk jahiliyyah lainnya. Mereka bahkan mungkin saja mendukung apa yang dianggap sebagai kelompok “yang lebih Islami” melawan kelompok-kelompok yang lebih sekuler, jika mereka merasa yang terakhir tidak mampu memelihara kepentingan mereka di kawasan tersebut, sebagaimana mereka mendukung “Salafi” palsu ‘Abdul ‘Aziz melawan sufi Al-Husain. Dan hal inilah sepertinya yang terjadi di Syam. Pada saat Free Syrian Aarmy (FSA) gagal mengamankan berbagai kepentingan Barat sedangkan Front “Islam” berhasil melakukannya, maka Front “Islam” sepertinya akan lebih mendapat dukungan dari para tentara salib melalui mediator mereka di negara-negara Teluk dan Turki.
  3. Bagi tentara Salib tidak ada masalah untuk mendukung kelompok-kelompok yang dipimpin oleh agenagen mereka yang berjenggot dalam mendirikan kesatuan politik “Islami” yang semu, bahkan mendukungnya dengan pasukan tentara, angkatan laut, dan angkatan udara salibis, jika hal tersebut membantu kepentingan mereka yang lebih besar. Mereka akan mengandalkan proksi-proksi ini untuk menggantikan peperangan yang mereka lakukan, sehingga mengirit nyawa tentara mereka sendiri. Bagi mereka, hal ini adalah “satu dari dua kejahatan yang paling ringan”.
  4. Tentara salib mencoba untuk menarik sekutu-sekutu mereka ke sebuah lereng yang licin berupa berbagai konsesi hingga sekutu-sekutu mereka tidak lagi mempunyai prinsip yang dapat dipegang dan dihargai. Agama mereka tidak lebih menjadi kepentingan pribadi dan kepentingan faksi memungkinkan mereka untuk meninggalkan hukum-hukum syari’at apa pun yang mereka kehendaki. Inilah mengapa meminta bantuan kepada orang kafir untuk melawan musuh kafir lainnya sangat berbahaya, karena syaratsyarat mereka pada awalnya tampak “polos” tapi kemudian berubah menjadi kekafiran yang nyata. Dan masalah ini jauh lebih serius ketika sebuah faksi “Islam” meminta bantuan orang-orang kafir untuk melawan muhajirin dan anshar Daulah Islam!
  5. Tentara salib pada akhirnya akan meninggalkan atau mengkhianati sekutu-sekutu murtad mereka untuk mendatangi agen-agen mereka lainnya yang lebih tenggelam dalam kemurtadan. Mereka akan memprioritaskan musuh-musuh mereka. Terkadang mereka mendukung orang-orang murtad berjenggot yang berasal dari kelompok “yang lebih Islami” atau faksi-faksi yang kelak akan mereka tusuk dari belakang, atau membolehkan agen-agen dan sekutu-sekutu mereka yang lebih loyal untuk melakukan hal tersebut.
  6. Tentara salibis bisa saja menggunakan orang-orang yang memiliki simbol dan “sejarah” untuk meraih kepentingan mereka. Karenanya tidak perlu seseorang kaget dengan adanya seseorang yang memiliki sejarah dalam “dakwah” dan “jihad” duduk-duduk diatas kursi orang-orang murtad di Turki.
  7. Hubungan antara Inggris, Al-Husain, dan ‘Abdul ‘Aziz tidak pernah menjadi sesuatu yang rahasia. Sebagaimana halnya hubungan antara Front “Islam”, Qatar, Turki, dan Alu Salul yang juga bukan rahasia, karena pertemuan-pertemuan mereka telah diketahui oleh publik. Adapun detail rencana masa lalu dan masa sekarang, maka kaum murtad tersebut telah disembunyikan dari kawanan domba-domba mereka.

Setelah membaca sejarah singkat ini, setiap Muslim seharusnya menolak kelompok mana pun yang mengibarkan panji-panji jahiliyyah ini dan kelompok mana pun yang bekerjasama dengan orang-orang yang mengibarkannya dalam melawan Daulah Islam.

Pengkhianatan semakin tajam di saat Shahwah mencari perlindungan dari angkatan udara Qatar dan Alu
Salul yang menyerang Daulah Islam. Semoga Allah menghidupkan kembali mereka di barisan bapak-bapak mereka – Al-Husain ibnu ‘Ali[3] dan ‘Abdul ‘Aziz ibnu Sa’ud – pada Hari Pembalasan.

Sumber : Majalah Dabiq Edisi 9 | Hal. 20-23

Terbit : Sya’ban 1436 H

Footnote :

[1] Secara bahasa berarti ‘Mulia’. Para pemimpin Hijaz (Makkah, Madinah dan daerah sekitarnya) sejak 597H/1200M hingga 1344H / 1925M berasal dari keturunan Qatadah ibn Idris Al-Hasani (W. 618H) dan diberi gelar ‘Syarif’ karena silsilah Hasani mereka. Karena generasi selanjutnya murtad melalui syirik dan wala’ kepada orang-orang murtad dan salibis maka mereka tidak layak mendapat gelar terpuji ini.

[2] Karena namanya sama, maka ini perlu diperhatikan bahwa setiap kali nama Husain ibn Ali digunakan disini maksudnya adalah seorang agen salibis dan bukan anak dari sahabat mulia Ali bin Abi Thalib (radhiyallahu anhu)

[3] Lihat footnote no. 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s