Fir’aunisme [Tuhan macam apa yang diklaim oleh Fir’aun…?]

Firaunisme

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul’alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para shahabatnya seluruhnya.

Sering sekali kita mendengar ucapan : “Alangkah durjananya Fir’aun, bagaimana bisa dia mengaku tuhan dan membunuhi anak-anak laki-laki?”. Ada pertanyaan yang harus dijawab : Ketuhanan macam apa yang diklaim oleh Fir’aun saat dia mengatakan :

“Akulah tuhan kalian yang paling tinggi” (An Nazi’at : 24),

dan saat Dia mengatakan :

Dan berkata Fir’aun : “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagi kalian selain aku” (Al Qashash : 38).

Apakah dia mengklaim menciptakan langit dan bumi beserta isinya? Apakah dia mengklaim memiliki manfaat dan madlarat? Dan apakah bentuk peribadatan kaum Fir’aun kepadanya? Serta apakah ada orang-orang di zaman sekarang yang seperti Fir’aun? Mari kita kupas dengan merujuk kepada dalil-dalil syar’iy lalu kita hubungkan dengan realita.

Ketahuilah, bahwa Fir’aun sama sekali tidak mengaku sebagai pencipta langit dan bumi, dia mengetahui benar  bahwa dirinya terlahir dari manusia, dan apa yang ada di sekitarnya bukanlah dia yang menciptakan, oleh sebab itu Musa alaihissalam berkata kepadanya :

“Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu
kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata”. (Al Isra : 102)

Jadi, Fir’aun tidak mengklaim penciptaan langit dan bumi beserta isinya. Fir’aun juga tidak mengaku bisa mendatangkan manfaat atau menolak bala, buktinya adalah tatkala Allah mengirimkan taufan, belalang, kutu, katak, dan air minum menjadi darah, maka Fir’aun dan kroni-kroninya malah datang meminta do’a kepada nabi Musa agar diselamatkan dari adzab yang menimpa mereka, sebagaimana yang Allah ta’ala kisahkan kepada kita :

“Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata : “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu” (Al A’raf : 134)

Buktinya juga adalah bahwa dia meminta bantuan para tukang sihir untuk mengalahkan mukjizat nabi Musa alaihissalam dan dia meminta pendapat para pejabat negerinya dalam menanggulangi mukjizat nabi Musa alaihissalam :

“Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada sekelilingnya : “Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai, ia hendak mengusir kamu dari negerimu sendiri  dengan sihirnya; maka karena itu apakah yang kamu anjurkan?”(Asy Syu’ara : 34-35)

Dan firman-Nya ta’ala tentang ucapan Fir’aun kepada khalayak :

“Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang” (Asy Syu’ara : 40)

Jadi kalau demikian keadaannya, apa sebenarnya ketuhanan yang diklaim Fir’aun itu? dan apa bentuk peribadatan rakyat Mesir kepadanya, serta bagaimana kaitannya dengan realita masa sekarang? Saya akan memahamkan dulu kepada sifat khusus ketuhanan yang berkaitan dengan hal ini, kemudian menghubungkan dengan kisah Fir’aun zaman Nabi Musa alaihissalam dan dengan realita Fir’aun-Fir’aun masa sekarang.

Di antara sifat khusus ketuhanan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah al hukmu wa at tasyri’ (kewenangan pembuatan hukum) yang tidakboleh disandarkan kepada selain-Nya, sebagaimana firman-Nya :

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” (Al An’am : 57)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan bagi-Nyalah segala penentuan hukum dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”
(Al Qashash : 70)

Dikarenakan Allah ta‟ala adalah yang menciptakan semua makhluk, maka hanya Dia-lah yang berhak memerintahkan dan menetapkan hukum sebagaimana firman-Nya :

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah” (Al A’raf : 54)

Penyandaran kewenangan pembuatan hukum itu adalah ibadah yang hanya disandarkan kepada Allah ta‟ala dan tidak boleh disandarkan kepada selain Allah ta‟ala, sebagaimana firman-Nya :

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kecuali kepada Dia” (Yusuf : 40)

Dan dikarenakan ini adalah hak khusus Allah, maka dia tidak menjadikan satupun sebagai sekutu-Nya di dalam penentuan hukum ini, sebagaimana firman-Nya :

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum” (Al Kahfi : 26)

Dan dalam qira’ah Ibnu Amir yang mutawatir dibaca :

“Dan janganlah kamu menyekutukan seorangpun di dalam (hak) menetapkan hukum” (Al Kahfi : 26)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut para pembuat undang-undang atau hukum selain Dia sebagai sekutu-sekutu yang diibadati selainNya, sebagaimana di dalam firman-Nya :

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka ajaran yang tidak diizinkan Allah?”. (Asy Syura : 21)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mencap para pembuat hukum selain Diri-Nya sebagai arbab (tuhan-tuhan yang diibadati) selain Allah, sebagaimana firman-Nya :

“Mereka (orang-orang Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya (ahli ilmu) dan rahibrahib (para pendeta) mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada  Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (At Taubah : 31)

Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis :

  1. Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib;
  2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib;
  3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah;
  4. Mereka telah musyrik;
  5. Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi arbab.

Bentuk ketuhanan macam apa yang mereka klaim dan bentukperibadatan macam apa yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani kepada alim ulama dan para pendetanya? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal itu di dalam hadits hasan dari ‘Adiy ibnu Hatim, ia datang ─saat masih Nashrani─ berkata : “Kami tidak pernah mengibadati mereka”.

Di sini ‘Adiy ibnu Hatim dan orang-orang Nashrani merasa tidak pernah beribadah kepada alim ulama dan para pendeta, karena mereka tidak pernah sujud dan shalat kepadanya, dan mereka tidak paham apa yang dimaksud dengan peribadatan dan pentuhanan alim ulama dan pendeta itu, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
menjelaskan hal itu seraya berkata : “Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?”, maka ‘Adiy berkkata : “Ya, benar”, maka Rasulullah berkata lagi :
“Itulah bentuk peribadatan kepada mereka”. Yaitu : bukankah mereka membuat hukum dan kalian mematuhi atau menyetujui dan menjadikan hukum mereka sebagai acuan?, dan ‘Adiy mengiyakannya.

Jadi, pemposisian diri sebagai tuhan di sini adalah dengan pengklaiman atau pengakuan akan keberhakkan pembuatan hukum dan undang-undang yang mana itu merupakkan hak khusus Allah. Oleh sebab itu Allah ta’ala mencap para penggulir hukum atau ajaran atau undang-undang selain Diri-Nya sebagai syuraka (sekutu-sekutu)
yang diibadati oleh kaum musyrikin, sebagaimana di dalam firmanNya :

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka
ajaran yang tidak diizinkan Allah?” (Asy Syura : 21)

Sedangkan bentuk peribadatan yang dilakukan oleh kaum Nashrani itu bukanlah sujud, rukuk, akan tetapi dengan ketaatan, kepatuhan, dan kesetiaan kepada hukum yang mereka buat. Oleh sebab itu Allah ta’ala mencap MUSYRIK orang-orang yang mentaati para pembuat hukum dalam hukum yang mereka buat, dan Dia mencap hukum buatan itu sebagai wahyu (bisikan) syaitan di dalam firman-Nya :

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian; dan jika kalian mentaati mereka, sesungguhnya kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” (Al An’am : 121)

Al Imam Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dengan sanad yang shahih bahwa kaum musyrikin mendebat kaum muslimin agar menyetujui mereka perihal penghalalan bangkai seraya mengatakan : “Apa yang disembelih kalian dengan tangan kalian adalah halal, sedangkan apa yang disembelih Allah dengan tangan-Nya yaitu ─bangkai─ adalah haram”.

Dengan ucapan ini mereka mendesak kaum muslimin agar menyetujui penghalalan bangkai, namun Allah ta’ala menghati-hatikan kaum muslimin dengan firmanNya: “dan jika kalian mentaati mereka, sesungguhnya kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” (Al An’am : 121)

Di dalam ayat ini Allah menetapkan beberapa hal :

  • Hukum yang bukan dari Allah adalah bisikan syaitan;
  • Orang-orang yang membuat hukum adalah wali-wali (kawankawan) syaitan;
  • Membuat atau menyetujui satu hukum saja adalah merupakan kemusyrikan;
  • Peribadatan kepada pembuat hukum selain Allah ta‟ala adalah dengan ketaatan, kepatuhan, kesetiaan kepada hukum tersebut;
  • Orang yang menyetujui hukum buatan walaupun hanya satu hukum saja, maka dia adalah orang musyrik.

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy rahimahullah berkata saat menjelaskan ayat tersebut: “Bahwa  setiap orang yang mengikuti aturan, undang-undang dan hukumyang menyelisihi apa yang Allah syari’atkan lewat lisan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu musyrik kepada Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai rabb (tuhan)”, (Al Hakimiyyah Fi Tafsir Adlwaul Bayan: … )

Bila anda telah memahami bahwa pengklaiman keberhakkan membuat hukum adalah pengklaiman ketuhanan, maka anda akan memahami bahwa ketuhanan yang diklaim Fir’aun itu adalah ketuhanan semacam ini, yaitu bahwa dirinyalah yang berhak membuat hukum dan hukumnyalah yang paling tinggi [“Akulah tuhan kalian yang paling tinggi” (An Nazi’at : 24)] serta tidak ada tuhan pembuat selain dirinya [“Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagi kalian selain aku” (Al Qashash : 38)], dan barangsiapa yang mengikuti hukum selainnya maka akan mendapat ancaman penjara : “Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain Aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. (Asy Syu’ara : 29)

Dan anda juga memahami bahwa peribadatan kaum Fir’aun kepadanya adalah bukan dengan shalat dan do’a kepadanya, akan tetapi dengan kepatuhan, ketaatan, kesetiaan kepada produk hukumnya :

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya”. (Az Zukhruf : 54)

Fir’aun dan para pembesar kaumnya berkata perihal Musa dan Harun ‘alaihimas salam :

“Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), Padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?” (Al Mukminun : 47)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat : “Orang-orang yang menghambakan diri” adalah orang-orang yang mentaati, sebagaimana firman-Nya :

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (Yasin : 60)

Makna menyembah syaitan adalah mengikuti atau mentaati syaitan.

Bila anda telah memahami macam ketuhanan yang diklaim Fir’aun, maka mari kita mengenal Fir’aun-Fir’aun zaman
sekarang di negeri ini. Untuk mengetahui Fir’aun-Fir’aun di negeri ini adalah sangat mudah,cukup dengan membuka kitab yang diimani kaum musyrikin di negeri ini dan yang lebih mereka sucikan daripada Al Qur’an Al Karim, yaitu
Undang Undang Dasar 1945 yang selalu mereka junjung tinggi dalam setiap kesempatan.

dan seterusnya………

Oleh : Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

LP. Sukamiskin Bandung, 22 Rajab 1428 H

Untuk selengkapya, silakan anda unduh ebook nya yang berformat .pdf dengan ukuran file 436 kb, di link ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s