Irja’ Bid’ah Paling Berbahaya

irja bidah paling berbahaya

Bismillahirrahmanirrahim.

Para ulama Salaf memberikan peringatan keras terhadap bid’ah Irja’, sebab dia merupakan bid’ah sesat yang melemahkan agama kaum Muslimin, membuat perbuatanperbuatan dosa besar dan bahkan kekafiran tampak seperti sesuatu yang remeh. Melalui Irja’, masyarakat Muslim mulai meninggalkan aktifitas agama mereka dan menggantikan amal ikhlas mereka dengan sesuatu yang tidak lebih dari sekedar bisnis duniawi dan – yang buruk – amalan bid’ah. Mereka bahkan berpaling dari mempelajari agama –seolah-olah cukup dengan memiliki beberapa syarat “kesadaran” yang tidak jelas– serta fokus pada ilmu dunia dan tidak mengambil sekedarnya saja. Sedikit demi sedikit, kebodohan muncul ke dalam bentuk seperti yang digambarkan oleh Al-Fudhail ibnu ‘Iyadh (raḥimahullah – wafat 187 H),

“Bagaimana sikapmu bila engkau berada pada zaman di mana engkau melihat manusia tidak bisa membedakan lagi antara kebenaran dan kebatilan, tidak pula antara kebodohan dan ilmu. Mereka tidak akan mengetahui yang baik adalah baik dan yang buruk adalah buruk” [al-Ibānah al-Kubrā].

Ibnu Baththah (raḥimahullāh – w. 387 H) mengomentari perkataan Al-Fudhail dengan mengatakan, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn, kita telah mencapai zaman itu, mendengarnya, mengetahui lebih banyak tentangnya, dan menyaksikannya. Jika seorang pria yang telah Allah karuniai fikiran dan pemahaman yang mendalam mau memperhatikan, merenungkan, dan membayangkan kondisi Islam dan umatnya – dalam mengikuti jalan yang paling menentukan dan sunnah yang paling mendapat petunjuk – akan sangat jelas baginya bahwa mayoritas manusia dan umumnya telah berbalik dan murtad. Dengan begitu, mereka telah menyimpang dari tujuan dan berpaling dari dalil yang benar. Akhirnya banyak manusia menganggapnya sebagai kebaikan yang biasanya mereka pandang sebagai keburukan, menganggapnya sebagai hal yang halal yang biasanya mereka pandang sebagai haram, dan menganggapnya kebaikan yang biasanya mereka pandang sebagai kejahatan. Hal ini –semoga Allah merahmati kita – bukan berasal dari sifat seorang Muslim, bukan pula perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai pemahaman mengenai agama ini, dan tidak juga amal orang yang mengimani agama dengan penuh keyakinan” [al-Ibānah al-Kubrā].

Ibnu Baththah juga berkata, “Manusia di zaman kita seperti kawanan burung. Mereka saling mengikuti. Jika seorang pria muncul dan mengaku nabi – walaupun mereka mengetahui bahwa Rasulullah (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) adalah nabi terakhir – atau mengaku tuhan, dia akan mendapatkan pengikut dan pendukung atas seruannya” [al-Ibānah al-Kubrā].

Sebab kebanyakan yang menyebabkan umat Islam terjatuh ialah bid’ah yang sesat ini, maka penting bagi muwahhid mujahid untuk memahami secara mendalam fenomena tersebut, khususnya yang bersinggungan dengan jihad.

 Kaum Salaf dan Peringatan Keras Mereka Terhadap Irja’

Kaum salaf yang telah menyaksikan kemunculan Irja’ sudah memperingatkan jauh-jauh hari akan hal tersebut. Mereka mengetahui bahwa hal itu bisa membawa ke arah terabaikannya agama, baik dalam mempelajari maupun mempraktekkannya.

Sa’id ibnu Jubair (rahimahullāh– w. 95 H) berkata, “Kaum Murji’ah adalah Yahudi Ahli Kiblat”[1] [asSunnah – ‘Abdullah ibnu Imam Ahmad].

Ibrahim An-Nakha’i (rahimahullāh– w. 96 H) berkata, “Fitnah Murji’ah bagi umat ini lebih aku takutkan daripada fitnah Azariqah [sebuah sekte Khawarij]” [as-Sunnah – ‘Abdullah ibnu Imam Ahmad]. Beliau juga berkata, “Fitnah Murji’ah bagi ahli Islam lebih aku takutkan daripada sejumlah orang-orang Azariqah” [as-Sunnah – ‘Abdullah ibnu Imam Ahmad]. Beliau juga mengatakan, “Menurut pandanganku, orang Khawarij lebih diuzur daripada orang Murji’ah” [as-Sunnah – ‘Abdullah ibnu Imam Ahmad]. Dia juga berkata, “Murji’ah meninggalkan agama lebih tipis daripada pakaian paling tipis” [as-Sunnah–‘Abdullah ibnu Imam Ahmad].

Selain itu, beliau juga berkata, “Murji’ah membuat sebuah pendapat, maka aku mengkhawatikan mereka atas umat. Kejahatan dari mereka lebih besar, maka sangat berhati-hatilah terhadap mereka” [asy-Syarī’ah – Al-Ajurri]. Dia juga mengatakan, “Aku tidak tahu manusia yang lebih bodoh dalam berpendapat selain orang-orang Murji’ah ini” [as-Sunnah – ‘Abdullah ibnu Imam Ahmad]

Mujahid (rahimahullāh– w. 104 H) berkata, “Mereka memulainya sebagai Murji’ah, kemudian Qadariyyah [orang-orang yang menolak qadar], kemudian berubah menjadi Majusi [penyembah api]” [Al-Lalika`i].

Qatadah (rahimahullāh– w. 118 H) dan Yahya ibnu Abi Katsir (rahimahullāh– w. 129 H) berkata, “Tidak ada satu pun penyimpangan yang lebih mereka khawatirkan atas umat ini daripada Irja’” [as-Sunnah – ‘Abdullah ibnu Imam Ahmad].

Muhammad ibnu ‘Ali ibnu Al-Husain (rahimahullāh–w. 118 H) berkata, “Tidak ada sesuatu pun, baik siang atau malam, yang lebih mirip dengan kaum Yahudi selain orang-orang Murji’ah” [Al-Lalika`i].

Az-Zuhri (rahimahullāh– w. 124 H) berkata, “Tidak ada penyimpangan yang dibuat setelah kedatangan Islam yang lebih berbahaya terhadap umatnya daripada irja`” [asy-Syarī’ah – Al-Ajurri].

Manshur ibnu Al-Mu’tamir (rahimahullāh– w. 133 H) berkata, “Murji’ah dan Rafidhah adalah musuh Allah” [Al-Lalika`i].

Mughirah Adh-Dhabbi (rahimahullāh– w. 133 H) berkata, “Demi Allah yang tiada ilah selain Dia, orang Murji’ah lebih aku khawatirkan daripada orang-orang fasik bagi agama ini” [as-Sunnah –‘Abdullah ibnu Imam Ahmad].

Al-A’masy (rahimahullāh– w. 148 H) berkata, “Demi Allah yang tiada ilah selain Dia, aku tidak mengetahui orang yang lebih jahat selain orang Murji’ah” [as-Sunnah – ‘Abdullah ibnu Imam Ahmad].

Sufyan Ats-Tsauri (rahimahullāh– w. 161 H) berkata, “Agama Irja’ adalah agama bid’ah” [as-Sunnah – AlKhallal]. Ia juga mengatakan, seraya membolak-balikkan halaman Al-Qur’an, “Tidak ada orang yang lebih jauh darinya [Al-Qur’an+ selain daripada Murji’ah” [AlLalika`i].

Syarik (rahimahullāh– w. 177 H) berkata, “Murji’ah adalah kaum yang sangat buruk. Orang Rafidhah cukup buruk, tetapi orang Murji’ah berdusta atas Allah” [as-Sunnah – ‘Abdullah ibnu Imam Ahmad].

Ibnu Al-Mubarak (rahimahullāh– w. 181 H) ditanya, “Mana yang lebih dulu muncul, Dajjal atau Dabbah?” Ia menjawab, “Kaum Jahmiyyah yang berbuat begini dan begitu kemudian diangkat sebagai qadhi atas Bukhara lebih berbahaya bagi Muslimin daripada kemunculan Dabbah atau Dajjal!” Sang Qadhi berasal dari Murji’ah ekstrim [as-Sunnah – ‘Abdullah ibnu Imam Ahmad].

An-Nadhr ibnu Syumail (rahimahullāh– w. 204 H) ditanya soal Irja’, maka ia menjawab, “Itu adalah agama yang sesuai dengan hawa nafsu raja-raja dimana Murji’ah mendapatkan sebagian dunia dari raja dan kehilangan sebagian agama mereka” [al Bidāyah wan-Nihāyah][2]

Jika para Salaf telah memberikan peringatan dengan sangat keras terhadap Irja’, bagaimana bisa bid’ah ini diabaikan begitu saja oleh kaum Muslimin?

Sumber : Majalah Dabiq Edisi 8 | Hal. 39-41

Terbit : Jumadil AKhir 1436 H

Footnote :

[1] Orang-orang Murji’ah membuat sebuah agama di mana para pengikutnya berharap untuk masuk surga sementara secara total meninggalkan amal-amal pokok keimanan (empat rukun Islam setelah syahadatain) dan mengaku membenarkan kalimatnya! Maka mereka serupa dengan Yahudi penipu yang {beriman kepada sebagian isi Al-Kitab dan kufur kepada sebagian yang lain} [QS. Al-Baqarah : 85] dan berkata, ,“Kami mendengar tapi tidak menaati”- [QS. Al-Baqarah : 93], sementara mereka menyatakan, ,“Kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”- [QS. Al-Baqarah : 80], dan ,“Kami akan diberi ampun”- [QS. Al-A’raaf : 169]. Para Salaf juga membandingkan Irja’ dengan Nasrani, karena beberapa di antara mereka diriwayatkan telah mengatakan, “Hati-hatilah dengan Irja’ karena ia merupakan bagian dari Nasrani” [Al-Lalika`i]. Hal ini karena Nasrani, seperti Yahudi, mengklaim keselamatan dapat diraih dengan semata kata-kata tanpa amal sama sekali yang mendukung ucapan tersebut; Allah (Ta’ala) membantah orang-orang Yahudi dengan berfirman, {Katakan,“Sudahkah kamu menerima janji Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal shaleh, mereka itu penghuni suga; mereka kekal di dalamnya} [QS. Al-Baqarah  : 80-82]. Dia (Ta’ala) membantah dengan berfirman, {“Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Tidak demikian), bahkan, barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah sementara ia beramal shalih, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati} [QS. Al-Baqarah : 111-112]. Lihat pula Surat An-Nisaa’ ayat 123-124. Orang-orang Yahudi dan Nasrani menyatakan bahwa pengakuan iman semata kepada rasul-rasulnya sudah cukup untuk menyelamatkan mereka dari api neraka sementara mereka meninggalkan implikasi pokok keimanan ini. Maka ditujukan kepada merekalah keharusan untuk mengikuti Nabi terakhir Muhammad (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam), baik perkataan maupun perbuatan, sebab beliau disebutkan kenabiannya di dalam lembaran-lembaran mereka. Akhirnya, rahmat dan ampunan Allah bukanlah suatu dalih atas perbuatan dosa dan kezhaliman; lupakan masalah syirik dan kufur!

[2] Murji’ah di masa lampau – dengan meremehkan agama dan mereduksi bahaya dosa – memberi para raja Muslim pembenaran untuk melakukan dosa dan kezhaliman. Sebagian Murji’ah kontemporer membenarkan para thaghut zaman modern untuk membuat hukum buatan manusia dan berloyalitas dengan orangorang Yahudi, Nasrani, musyrik, dan murtad melawan Muslimin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s