Menjawab Hujatan Penginjil Kristen Soal “Babi Haram Cerai Halal”

menyoal babi haram cerai halal

Para penginjil Kristen merasa heran terhadap ajaran Islam yang mengharamkan babi tapi menghalalkan perceraian. Menurutnya, ajaran ini keliru, mestinya mengharamkan perceraian dan menghalalkan babi.

Dalam situs Kristen berkedok Islam (www.####islamdankaumwanita.com), tanpa menyebutkan referensi yang jelas, memulai dengan menuding dampak negatif syariat perceraian terhadap umat Islam di Indonesia. Menurutnya, tahun 2010, Indonesia yang notabene negara Muslim terbesar di dunia adalah negara dengan tingkat perceraian tertinggi, yaitu ratusan ribu perceraian setiap tahun.

Klaim ini adalah omong kosong besar. Justru berdasarkan statistik dunia, dari tahun ke tahun angka Perceraian di negara yang berbasis Kristen dan non Musim lebih tinggi daripada negara yang berbasis Muslim.

Situs resmi Gereja Sidang Jemaat Allah (gsja.org) merilis data pada tahun 2002, dari 28 negara yang memiliki tingkat perceraian tertinggi di dunia didominasi oleh negara-negara berbasis Kristen dan non Muslim. Susunan negara peringkat perceraian tertinggi di dunia adalah sbb: Swedia (54,9), Belarus (52,9), Finlandia (51,2), Luxembourg (47,4), Estonia (46,7), Estonia (46,7), Australia (46), United States (45,8), Denmark (44,5), Belgium (44), Austria (43,4), Czech Rep (43,3), Rusia (43,4), Inggris (42,6), Norwegia (40,4), Ukrania (40), Iceland (39,5), Jerman (39,4), Lithuania (38,9), Prancis (38,3), Belanda (38,3), Hungaria (37,5), Kanada (37), Latvia 34,4), Moldova (28,1), Slovakia (26,9), Portugal (26,2), Switzerland (25,5).

Tahun 2004, lembaga survey NationMaster.com mengeluarkan data statistik bahwa angka perceraian di negara-negara berbasis ke-Kristen-an seperti Amerika Serikat, Eropa maupun Amerika Latin, ternyata lebih tinggi daripada negara-negara yang bukan berbasis Kristen.

Akhir Desember 2010 Huffington Post merilis hasil survey Badan Demografi PBB tentang negara dengan angka perceraian paling tinggi di dunia. Dari hasil survei statistik di seluruh dunia tersebut, sepuluh negara dengan tingkat perceraian tertinggi di dunia sama sekali tidak tercantum nama negara mayoritas Muslim.

Susunan peringkatnya sbb: Rusia (tingkat perceraian lima per 1000 orang), Belarus (tingkat perceraian 3,8 per 1000 orang), Ukraina (angka perceraian 3,6 per 1000 orang), Moldova (angka 3,5 perceraian per 1000 orang), Kepulauan Cayman (tingkat perceraian 3,4 per 1000 orang), Amerika Serikat (tingkat perceraian mencapai 3,4 per 1000 orang), Bermuda (tingkat perceraian 3.3 per 1000 orang), Kuba (3,2 perceraian setiap 1000 orang), Lithuania (angka perceraian 3,1 per setiap 1000), Republik Ceko (angka perceraian 3 per 1000 orang).

Mengutip situs therichest.com, situs berita nasional Liputan6.com pada 17 Februari 2015 merilis sepuluh negara yang memiliki tingkat perceraian tertinggi di dunia. Top ten negara perceraian tertinggi di dunia adalah negara mayoritas Kristen dan non Muslim, antara lain: Maladewa (97 perceraian per 1.000 orang), Belarus (68%), Belgia (61%), Rusia (53%), Amerika Serikat (51%), Ukraina (42%), Portugal (72 perceraian per hari), Republik Ceko, Swedia dan Hongaria (12,4%)

MISIONARIS MENENTANG PARA NABI ALLAH

Dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an tentang perceraian, sang penginjil berkomentar ketus dan membandingkan dengan keharaman babi. Menurutnya, perceraian lebih layak diharamkan ketimbang babi. Berikut kutipannya:

“Haram dan halal adalah hal yang serius dalam agama Islam. Seperti babi, merupakan binatang paling populer yang diharamkan. Apapun yang kena padanya, dianggap najis. Bagaimana jika kita bandingkan dengan perceraian? Islam mengajarkan bercerai adalah halal.… Makanan yang hanya sebatas dari mulut ke perut lalu dibuang ke jamban, dianggap begitu penting sehingga diharamkan. Bagaimana dengan perceraian, bukankah perceraian mengakibatkan dampak negatif permanen bagi suami-istri bahkan anak dan keluarga besar?”

Terlalu lancang bila penginjil mengkritisi ajaran Al-Qur’an yang tidak dipahaminya. Mestinya, bila penginjil ini memprotes ajaran yang menghalalkan perceraian dan menghalalkan babi, sasaran protesnya adalah Alkitab (Bibel).

Sebab dalam kitab Taurat Perjanjian Lama, Nabi Musa mengizinkan perceraian sehingga ada kata “surat cerai” dalam Bibel (Ulangan 24:1-3). Fakta adanya “surat cerai” ini pun diakui oleh Yesus dalam Perjanjian Baru (Injil Matius 19:5-9).

Mengenai keharaman dan kenajisan babi, jika ditolak oleh para penginjil, maka sasaran pertama kitab suci yang harus dilabrak adalah Bibel sendiri. Karena kitab Taurat Musa secara tegas mengharamkan babi secara mutlak, bahkan dagingnya pun menajiskan:

Dan lagi babi, karena sungguhpun kukunya terbelah dua, ia itu bersiratan kukunya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Janganlah kamu makan dari pada dagingnya dan jangan pula kamu menjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu” (Imamat 11:7-8, Ulangan 14:8).

Ribuan tahun kemudian, meski mengetahui bahwa hukum haramnya babi dalam Taurat itu sangat keras, tapi Yesus tidak mengecam Nabi Musa. Yesus tidak memprotes dengan berargumen “babi hanyalah makanan yang hanya sebatas dari mulut ke perut lalu dibuang ke jamban, tidak begitu penting untuk diharamkan.”

Bahkan Yesus tidak menghapus hukum haramnya babi, dengan menegaskan bahwa misinya sama sekali tidak untuk meniadakan hukum Taurat: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17, Lukas 16:17).

Karenanya, tak heran jika dalam Bibel tak ada satu ayat pun yang mengisahkan bahwa Yesus pernah makan babi dalam menu apapun semisal sate babi, soto babi, gulai babi, acar babi, babi guling atau menu lainnya.

Bahkan menurut Injil Markus 5:11-13 dan Matius 8:31-33, Yesus membunuh babi-babi tanpa minta izin kepada pemiliknya dengan cara yang mengenaskan. Yaitu memasukkan roh jahat yang bernama Legion ke dalam dua ribu babi yang sedang mencari makan di lereng bukit. Akibatnya, ribuan babi yang kerasukan roh jahat ini terjun ke dalam jurang yang di bawahnya ada danau, sehingga ribuan babi itu mati lemas.

TUHAN RAGU-RAGU BERFIRMAN?

Dalam subjudul “Cerai Halal Tetapi Dibenci Allah,” sang penginjil menuding Allah Subhanahu wa ta’ala peragu dalam mewahyukan syariat dalam Al-Qur’an.

“Perceraian halal, tetapi dibenci Allah. Bila kita kaji, pernyataan ini terdiri dari dua bagian yang saling bertolak-belakang. Sesuatu yang haram wajar dibenci, tetapi yang halal? Bagaimana mungkin Allah membenci sesuatu yang halal? Allah sendiri yang mengijinkan perceraian, lalu Allah pula yang membencinya. Apakah Allah ragu-ragu dengan firman-Nya? Sungguh tidak masuk akal!”

Tuduhan ini sama sekali tidak menodai Islam, justru memamerkan kebodohan penginjil. Tanpa menunjukkan ayat Al-Qur’an yang dimaksud, ia menuding Allah Subhanahu wa ta’ala ragu-ragu berfirman.

Hanya berbekal asumsi bahwa Allah menghalalkan perceraian tapi membenci perceraian, sekonyong-konyong ia menghina Allah dengan tuduhan keji.

Memang, di masyarakat sudah masyhur opini bahwa perceraian perbuatan yang halal tapi dibenci Allah, berdasarkan hadits: “Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah cerai” (HR Abu Daud dan Baihaqi).

Tapi hadits ini dhaif (lemah) dengan kategori mursal (terputus silsilahnya di akhir sanad). Hukum asal hadits mursal adalah mardud (tertolak) dikarenakan tidak terpenuhinya salah satu syarat hadits maqbul (yang diterima).

Jelaslah bahwa sama sekali tidak ada firman Allah yang diwahyukan dengan ragu-ragu. Jadi, tudingan ini adalah halusinasi penginjil yang buta ilmu hadits.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s