Kemunafikan Adalah Hal yang Tidak Ada Menurut Murji’ah

waspadai murjiah

Bismillahirrahmanirrahim.

Menurut pandangan sebagian Murji’ah, kemunafikan tidak ada, baik itu nifaq akbar maupun nifaq ashgar.

Sufyan Ats-Tsauri (raḥimahullāh) berkata, “Perbedaaan antara kita dan Murji’ah ada tiga. Kita berkata iman adalah perkataan dan perbuatan, sedangkan mereka berkata bahwa dia hanya perkataan tanpa perbuatan. Kita berkata iman bertambah dan berkurang, sedangkan mereka berkata bahwa dia tidak bertambah dan tidak berkurang. Kita berkata kemunafikan itu ada, sedangkan mereka berkata bahwa kemunafikan itu tidak ada” [Shifah an-Nifāq – AlFiryabi][1].

Al-Hasan Al-Bashri (rahimahullāh– w. 110 H) diberitahu tentang orang-orang yang mengklaim bahwa kemunafikan tidak ada dan mereka tidak takut nifaq. Dia berkata, “Demi Allah, mengetahui bahwa aku terbebas dari kemunafikan lebih aku cintai daripada memiliki emas sepenuh bumi” [as-Sunnah – AlKhallal]. Selain itu, beliau berkata, “Tidak berlalu atau tidak akan pernah berlalu seorang mu’min, kecuali ia takut kemunafikan, dan tidak berlalu atau tidak akan pernah berlalu seorang munafik, kecuali ia merasa aman dari kemunafikan. Barangsiapa yang tidak takut dirinya jatuh ke dalam kemunafikan, maka ia adalah seorang munafik” [Shifah an-Nifāq – Al-Firyabi].

Salah seorang Murji’ah berkata di depan Ayyub As-Sikhtiyani (rahimahullāh– w. 131 H), “Hanya ada kufur dan iman,” maksudnya tidak ada kemunafikan. Ayyub berkata kepadanya, “Pergi dan bacalah AlQur’an! Setiap ayat yang menyebut kemunafikan, maka aku takut ia terjadi pada diriku!” [al-Ibānah alKubrā – Ibnu Baththah].

Sungguh pantas bagi Allah (‘Azza wa Jalla) untuk mengumpulkan mereka bersama Dajjal” [as-Sunnah –Al-Khallal].

Ibnu Mas’ud (radhiyallāhu ‘anhu) berkata, “Mereka berkata, ‘Tidak ada kafir atau munafik di antara kami.’ Semoga Allah menghancurkan kaki mereka” [al-Ibānah al-Kubrā – Ibnu Baththah].

Imam Ahmad (raḥimahullāh) mencatat bahwa diantara perkara yang disangkal Murji’ah ialah penjelasan mengenai kemunafikan; beliau lalu berkata, “Waspadalah agar Murji’ah tidak menggelincirkanmu dari urusan agamamu” [as-Sunnah – Al-Khallal].

Murji’ah yang menyangkal kemunafikan terbagi dalam dua jenis yang berbeda. Satu firqah  –Karramiyyah– menyatakan bahwa iman itu hanya perkataan lisan bahkan walau hati mengandung nifaq akbar. Mereka menyebut munafik pada masa Rasulullah (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) mu’min, meskipun mereka-mereka meyakini “orang-orang mu’min” ini akan masuk neraka. Firqah lain mengaku bahwa iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang. Pengakuan ini menuntut untuk meniadakan nifaq ashghar, sebab keberadaannya pada diri sesorang mengharuskan imannya berkurang. Justru eksistensi kemunafikan –baik akbar maupun ashghar– berasal dari perkara yang sangat terang yang dijelaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain Surat Al-Munaafiquun dan Surat At-Taubah, terdapat sejumlah ayat dan hadits yang menjelaskan fenomena ini.

Rasulullah (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Perumpamaan orang munafik ialah seperti anak domba yang ragu di antara dua kawanan domba, terkadang mendatangi kawanan ini dan terkadang kawanan lainnya” [HR. Muslim dari Ibnu ‘Umar].

Dalam riwayat lain, “Ia tidak tahu kelompok mana yang harus diikuti” [Shahih: HR. An-Nasa’i dari Ibnu ‘Umar]. Hadits ini menunjukkan bahwa munafik mengembara di zona abu-abu, yaitu di antara kufur dan iman.

Beliau (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) juga bersabda, “Sesungguhnya mayoritas orang-orang munafik dari umatku ialah qurrā`-nya” [Hasan: HR. Imam Ahmad dari ‘Abdullah ibnu ‘Amr]. Al-Bukhari (raḥimahullāh) berkata bahwa orang-orang munafik dari al-qurrā` ini meliputi, “al-Qurrā` yang meniadakan sifat-sifat Allah, Jahmiyyah, pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah), selain yang lainnya” [Khalq Af’āl al-‘Ibād].

Istilah alqurrā` dipergunakan pada masa sahabat terhadap para ulama ahli agama, karena para ulama dikenal dengan hafalan, bacaan, dan pemahaman Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam hadits, “al-Qurrā` –baik senior maupun yunior– adalah anggota Majelis Syura di masa ‘Umar” [Shaḥīḥ al-Bukhārī].

Rasulullah (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari umatku adalah setiap munafik yang pandai berbicara” [Shahih: HR. Imam Ahmad dari ‘Umar].

Munafik yang pandai berbicara ini termasuk para ulama yang menyesatkan yang disebutkan dalam hadits lain. Abu Dzar (radhiyallāhu ‘anhu) meriwayatkan bahwa ketika ia berjalan bersama dengan Nabi (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam), Nabi berkata tiga kali, “Sesungguhnya, ada yang lebih ku takutkan atas umatku melebihi Dajjal.” Abu Dzar bertanya kepada beliau, “Apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal?” Beliau menjawab, “Para imam yang menyesatkan” [Shahih: HR. Imam Ahmad dari Abu Dzar].

Ahli bid’ah juga mempunyai banyak sifat nifaq ashghar – merupakan suatu dosa besar – selain kebanyakan dari mereka telah menjadi munafik yang penuh dan zindiq. Hal ini karena akar bid’ah ialah kekafiran dan merupakan pintu gerbang ke arah kekafiran. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (raḥimahullāh) berkata, “Bid’ah-bid’ah berasal dari kekafiran, karena tidak ada pendapat yang bid’ah kecuali ia membawa cabang-cabang kekafiran” [Minhāj as-Sunnah].

Selain itu, bid’ah ialah sikap antara Islam yang murni dan kufur yang nyata… lagi-lagi zone abu-abu kemunafikan. Al-Fudhail ibnu ‘Iyadh (raḥimahullāh) berkata, “Ketika aku melihat seseorang dari Ahlus Sunnah, maka seolah-olah aku melihat seseorang dari sahabat Rasulullah (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam); dan ketika aku melihat seseorang dari ahli bid’ah, maka seolah-olah aku melihat seseorang dari kaum munafik” [Syarḥ as-Sunnah – Al-Barbahari]. Beliau juga berkata, “Tanda-tanda kemunafikan ialah seorang pria berjalan dan duduk bersama dengan seorang ahli bid’ah” [al-Ibānah al-Kubrā – Ibnu Baththah].

Abu Qilabah (rahimahullāh – w. 104 H) berkata, “Aku tidak menemukan satu perumpamaan pun bagi ahli bid’ah selain kemunafikan, sebab Allah telah menyebutkan kemunafikan sebagai kata-kata dan perbuatan yang saling bertentangan” [as-Sunnah – AlKhallal].

Ibnu Taimiyyah (raḥimahullāh) juga berkata, “Ketika ahli bid’ah memiliki kekuatan, mereka serupa dengan orang-orang kafir dalam memandang halal membunuh orang-orang mu’min dan mengkafirkan mereka, seperti yang dilakukan oleh Khawarij, Rafidhah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan cabang-cabangnya. Beberapa dari mereka berperang ketika mereka merupakan kelompok yang kuat, seperti Khawarij dan Zaidiyyah. Kelompok lainnya berusaha untuk membunuh individu-individu lawannya dengan memanfaatkan kekuasaan mereka atau lewat tipu muslihat. Ketika mereka lemah, mereka serupa dengan orang-orang munafik. Mereka memanfaatkan tipu muslihat dan kemunafikan, seperti halnya kondisi orang-orang munafik. Hal itu karena bid’ah berasal dari kekafiran, karena ketika musyrikin dan Ahli Kitab memiliki kekuatan, mereka mengobarkan perang melawan orang-orang beriman, dan ketika lemah, mereka berlaku munafik” [al-Fatāwā al-Kubrā].

Maka Sallam ibnu Abi Muthi’ (rahimahullāh– w. 173H) berkata bahwa ulama Salaf “Ayyub [As-Sikhtiyani] akan menyebut semua ahli bid’ah sebagai Khawarij; Dia akan berkata, ‘Khawarij berbeda dalam nama tapi bersepakat dalam pedang’” [Al-Lalika`i].

Dan hukum untuk memerangi ahli bid’ah jika mereka mengangkat senjata sangat dikenal. Perang melawan Khawarij adalah sunnah Khalifah Rasyidah keempat ‘Ali ibnu Abi Thalib (radhiyallāhu ‘anhu). Beliau membawa Sunnah Rasulullah (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) terhadap para pengklaim Islam di mana hati mereka dijangkiti bid’ah dan kemunafikan.

Pendiri Khawarij (Dzul Khuwaishirah) berkata kepada Nabi (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam), “Ya Muhammad, berlaku adillah!” ‘Umar ibnu Al-Khaththab (radhiyallāhu ‘anhu) kemudian berkata, “Ya Rasulullah, izinkan aku membunuh munafik ini.” Beliau menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar orang-orang tidak mengatakan bahwa aku membunuh sahabat-sahabatku. Orang ini dan sahabat-sahabatnya membaca Al-Qur’an namun tidak melebihi tenggorokan mereka. Mereka meninggalkan agama seperti panah yang lepas dari busur” [HR. Muslim dari Jabir ibnu ‘Abdillah].

Di sini Nabi (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) tidak mencela ‘Umar yang menyebut orang tersebut munafik, namun Nabi mendukung tuduhan ‘Umar dengan menjelaskan sifat kemunafikan: amal-amal agama yang tidak mempunyai realita di dalam hati – membaca Al-Qur’an yang tidak lebih melewati tenggorokan saja. Beliau mencegah ‘Umar untuk membunuh pendiri firqah sesat ini merujuk pada alasan yang sama untuk tidak membunuh tokoh munafik terkenal (‘Abdullah ibnu Ubay) Ibnu Salul yang berkata, “Jika kita kembali ke Madinah, orang-orang yang paling mulia pasti akan mengusir orang-orang yang paling hina darinya.” Ketika ‘Umar meminta izin untuk membunuh Ibnu Salul, Nabi (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) mengatakan kepadanya untuk tidak melakukannya “agar orang-orang tidak mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir ibnu ‘Abdillah]. Nabi (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Mereka [Khawarij] akan membunuh ahli Islam dan membiarkan ahli syirik. Jika aku mencapai zaman itu, aku akan membunuh mereka [sehingga mereka musnah] seperti musnahnya kaum ‘Ad” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudhri].

Hadits-hadits di atas menunjukkan kesamaan antara kemunafikan dan kebid’ahan serta keumuman akar mereka. Riwayat terakhir juga menunjukkan Sunnah Rasulullah (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) terhadap Khawarij.

Sekali lagi, beberapa Murji’ah modern berada dalam kebingungan. Mereka memandang bahwa meninggalkan jihad benar-benar sifat kemunafikan, dan karena orang-orang munafik modern ikut serta dalam pertempuran dan menjaga garis depan, mereka tidak akan memandangnya sebagai munafik.

Mereka lupa bahwa Dzul Khuwaishirah dan ‘Abdullah ibnu Salul ikut serta dalam pertempuran dahsyat, Khawarij berperang di atas kesesatannya, dan orang-orang munafik Badui berperang selama Perang Riddah dari pihak Musailamah dan orang-orang yang menolak membayar zakat. Orang-orang munafik meninggalkan pertempuran ketika mereka tidak mendapatkan hasil dunia sebagai timbal baliknya, ketika tidak sesuai dengan kepentingan kemunafikannya, dan ketika kesukaran yang dihadapi terasa sulit bagi mereka.

Hudzaifah (radhiyallāhu ‘anhu) mendengar seseorang berdo’a, “Ya Allah, lenyapkanlah orang-orang munafik.” Hudzaifah berkata kepadanya, “Jika mereka dilenyapkan, kamu tidak akan bisa membalaskan dendam secara tepat terhadap musuh-musuhmu” [as-Sunnah – Al-Khallal].

Hal ini berhubungan dengan hadits dari Nabi (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam), “Sesungguhnya Allah akan mengokohkan agama ini melalui orang-orang yang tidak mempunyai bagian apa pun dari agama ini” [Hasan: HR. Imam Ahmad dari Abu Bakrah].

Abu Hurairah (radhiyallāhu ‘anhu) berkata, “Kami ikut dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam). Beliau berkata tentang orang yang mengaku Islam, ‘Orang ini berasal dari ahli neraka.’ Ketika pertempuran berlangsung, orang tersebut berperang dengan hebatnya hingga dia terluka. Dikatakan, ‘Ya Rasulullah, orang yang engkau katakan termasuk ahli neraka pada hari ini berperang dengan hebatnya dan telah mati.’ Lalu Nabi (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, ‘Dia masuk neraka.’ Sebagian orang hampir meragukannya. Ketika dalam situasi seperti itu, mereka diberitahu, ‘Dia tidak mati. Dia menderita luka parah dan ketika malam tiba, dia tidak tahan akan luka-lukanya, maka dia membunuh dirinya.’ Nabi (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) diberitahu mengenai hal ini dan berkata, ‘Allahu akbar! Aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.’ Beliau kemudian meminta Bilal agar mengumumkan kepada manusia bahwa, ‘Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang Muslim’ dan ‘Sesungguhnya Allah menolong agama ini melalui orang-orang fajir.’” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]. Fajir ialah orang yang melakukan perbuatan fujūr [keburukan], yang merupakan salah satu sifat kemunafikan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam), “Jika empat sifat terdapat pada diri seseorang maka ia seorang munafik tulen. Jika berbicara ia berdusta, jika diberi amanat ia khianat, jika berjanji ia melanggarnya, dan jika berdebat ia berlaku fajar (melakukan fujūr)” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah ibnu ‘Amr].

Ibnu Rajab berkata, “Yang dimaksud dengan fujūr ialah ia secara sengaja meninggalkan kebenaran sampai batas kebenaran menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Ini berasal dari perkara di mana kedustaan mengarahkannya, sebagaimana Nabi (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, ‘Janganlah berdusta, karena berdusta mengarah pada fujūr dan fujūr mengarah ke neraka’” [Jāmi’ al-‘Ulūm wal-Ḥikam]. An-Nawawi berkata seraya mengomentari kata fajar, “Artinya ia cenderung menjauh dari kebenaran dan berkata batil dan dusta” [Syarḥ Shaḥīḥ Muslim].

Riwayat-riwayat di atas mengindikasikan bahwa kaum munafik bisa saja ikut dalam jihad dan bahkan bisa menentukan dalam kemenangan sejumlah pertempuran.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Orang-orang munafik yang berkata, {“Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir”} [QS. Al-Baqarah: 8] tetapi bukan orang yang beriman adalah mereka yang berada di luar orang-orang yang beriman. Mereka shalat bersama manusia. Mereka melaksanakan haji dan berpartisipasi dalam peperangan. Muslimin dan orang-orang munafik saling menikah dan mewarisi.” [Majmū’ al-Fatāwā].

Imam Muhammad ibnu ‘Abdil Wahhab berkata, “Orang-orang munafik pada masa Rasulullah (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam) melakukan jihad fīsabīlillāh dengan harta dan jiwanya, shalat lima kali sehari bersama Rasulullah (shallāllāhu ‘alaihi wa sallam), dan melaksanakan haji bersama beliau” [ad-Durar as-Saniyyah].

Lebih lanjut, di dalam sejumlah ayat Al-Qur’an terungkap hal berkenaan dengan orang-orang munafik yang berpartisipasi dalam Perang Tabuk dan Bani Al-Musthaliq, termasuk: {Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakan: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa} [QS. At-Taubah : 65-66]. {Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi} [QS. At-Taubah : 74], dan {Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga…} [QS. An-Nūr : 11]. Ayat terakhir dan yang lainnya dari Surat An-Nūr mengungkap peristiwa di mana orang-orang munafik mulai melakukan serangan dengan memfitnah Ummul Mu’minin, ‘Aisyah (radhiyallāhu ‘anhā). Ini terjadi selama sariyah Perang Bani Al-Musthaliq.

Sumber : Majalah Dabiq Edisi 8 | Hal. 48-52

Terbit : Jumadil Akhir 1436 H

Footnote :

[1] Untuk bacaan, lihat pula Dabiq edisi #7 halaman 62-66 tentang sifat-sifat nifaq akbar yang dilalaikan oleh para partisan dan dalil-dalil dari Al-Qur’an mewajibkan jihad melawan orang-orang munafik jika mereka terlihat melakukan tindak kemunafikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s