Mashlahat Dakwah Bukan Alasan Melegalkan Kekafiran

legalkan kafir dan syirik

Bismillahirrahmanirrahim.

Permasalahan ini sangat penting karena banyak sekali orang-orang, dan para aktivis terjatuh ke dalam kemusyrikan dan kekafiran dengan alasan mashlahat dakwah, mashlahat umat dan seterusnya. Alasan-alasan ini kadang membuat sebagian para ikhwan merasa berat untuk mengkafirkan orang-orang, para aktivis yang telah melakukan kemusyrikan atau kekafiran dengan klaim alasan mashlahat penegakkan syariat, mashlahat umat atau mashlahat dakwah.

Sekarang akan kita bahas bahwa alasan mashlahat dakwah, mashlahat perjuangan, mashlahat pergerakkan, mashlahat umat atau bahkan darurat itu bukanlah alasan yang dapat melegalkan kemusyrikan atau kekafiran, justru orang yang melakukan kemusyrikan syirik akbar dengan alasan mashlahat dakwah, mashlahat pergerakan, perjuangan, mashlahat umat atau mashlahat penegakkan syariat maka dia itu kafir.

Dan di sini akan saya tuturkan penjelasan dari nash-nash Al-Quran dan seterusnya. Sebelumnya kita harus  memahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Mengetahui segala apa yang akan terjadi. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengecualikan orang yang mukrah dari vonis kafir dan tidak mengecualikan orang yang beralasan mashlahat dakwah, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang ada dibisikkan oleh
manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa nanti akan ada orang yang beralasan maslahat dakwah, tapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menjadikan hal itu sebagai hal yang melegalkan kemusyrikan dan kekafiran, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan dalam surat Al-Mulk ayat 14 :

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Sedangkan Dia adalah Dzat Yang Maha Lembut lagi Maha mengetahui”.

Jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang akan menimpa berupa kesulitan-kesulitan hingga banyak umat ini yang akan hidup di negeri kafir, akan munculnya berbagai macam kemusyrikan dengan dalih mashlahat, namun Allah hanya mengecualikan orang yang dipaksa sedangkan hatinya tentram dengan keimanan, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami telah menciptakan manusia dan Kami Mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwa manusia itu…” (QS: Qaaf: 16).

Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat yang telah menciptakan manusia dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui apa yang akan dibisikkan oleh jiwa manusia, baik zaman awal penciptaan manusia ataupun di masa mendatang seperti zaman sekarang ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa nanti akan ada orang yang melakukan
kemusyrikan dengan alasan mashlahat dakwah, alasan penegakkan syariat, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwa manusia, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melegalkan kemusyrikan, tidak mengecualikan vonis kafir dari orang yang melakukan kekafiran dan kemusyrikan dengan alasan mashlahat dakwah.
Kemudian di dalam sebuah atsar dari Ali bin Abi Thalib -semoga Allah meridhainya- mengatakan :

“Seandainya dien ini berdasarkan akal, tentulah bawah sepatu lebih utama diusap daripada atas sepatu, sedangkan sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengusap atas sepatu” (HR. Abu Dawud, dengan sanad hadits yang hasan).

Di sini Ali -semoga Allah meridhainya- menjelaskan bahwa seandainya agama itu yang menjadi patokkannya adalah akal, tentu ketika di dalam Mas-hul Khuffain (mengusap dua sepatu) itu maka yang diusap adalah bagian bawah sepatu karena ia itu yang kotor dan yang langsung terkena tanah atau kotoran, akan tetapi karena dien ini berdasarkan wahyu atau berdasarkan dalil naqli maka pikiran akal itu bukan patokan di dalam syari’at, dan Ali
radliyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa “aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengusap atas sepatu” dalam mas-hul khuffain, yang diusap adalah sepatu bagian atasnya bukan bagian bawahnya. Oleh sebab itu di dalam dien ini kita harus ittiba’ bukan mengada-ada.

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian mengikuti para pemimpin selain-Nya…” (QS. Al A’raf: 3).

Dan seterusnya…

Dituangkan dari kajian : Abu Sulaiman Aman Abdurrahman Al Akhabiliy
15 Rabi’ Al Awwal 1436H
Sijn Thaghut KK NK

Bagi anda yg ingin mendapatkan penjelasan selengkapnya terkait perkara diatas, unduh ebooknya yang berformat .pdf berisikan 12 halaman berukuran file 161 kb saja, disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s