Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah

islam itu alquran

Bismillah, wal hamdulillah, wash-shalatu was-salam ‘ala Rasulillah, amma ba’du :

Wahai kaum muslimin yang di rahmati Allah, semoga Allah senantiasa menuntunmu kejalan kebenaran, kejalan yang telah di gariskan oleh Rasulullah, sebagaimana dalam setiap rakaat shalatmu engkau berdoa memohon kepada Allah: “Tunjukilah kami kejalan yang lurus.” Tidaklah engkau sadar ketika memohon kepada Allah lewat doa ini bahwa engkau menginginkan agar Dia senantiasa menuntunmu, mengokohkanmu diatas Al-Haq, dan tidakkah engkau sadari bahwa Al-Haq itu adalah Islam? Dan tidakkah engkau fahami bahwa Al-Islam itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah? Adapun selainnya maka itu adalah pendapat dan perkataan yang bisa benar maupun salah, namun yang wajib atasmu adalah menerima dengan sepenuh hati Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, semua perkataan dan pendapat manusia wajib engkau timbang dengan kedua hal ini. Inilah salah satu sebab di kabulkannya doamu, engkau lebih mendahulukan keduanya daripada fatwa, pendapat dan kalam manusia. Jika fatwa, pendapat itu bersesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka terimalah namun jika bertentangan maka buanglah kedalam samudra. Ini adalah usul para Salaf, ini adalah kaidah Ulama’ salaf yaitu menimbang setiap ucapan manusia dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagaimana perkataan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma :

“مَا مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلَّا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”

“Tidak ada seorangpun keculali boleh di ambil dan di tinggalkan ucapannya, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[1]

Al-Mujahid berkata :

“لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ إِلَّا وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ، إِلَّا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “

“Tidak ada satu makhlukpun keculali boleh di ambil dan di tinggalkan ucapannya, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[2]

Hal ini di karenakan tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan dan dosa, seseorang bisa salah dan bisa juga benar, sehingga ucapan mereka bukanlah menjadi hujjah dalam Islam, jika ucapan, fatwa itu berjalan seiring dengan nash-nash Syar’i maka hal itu akan menjadi penguat dan penjelas, bukan merupakan sebuah hujjah. Namun jika ternyata bertentangan dengan kedua usul tersebut maka wajib di tinggalkan.

Imam Malik berkata :

إِنَّمَا أَنا بشر اخطىء وَأُصِيب فانظروا فِي رأيى فَكل مَا وَافق الْكتاب وَالسّنة فَخُذُوهُ وكل مَا لم يُوَافق الْكتاب وَالسّنة فاتركوه

“Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa salah dan bisa benar, maka lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah maka tinggalkanlah.”[3]

Abu Hanifah berkata :

لَا يحل لأحد أَن يَأْخُذ بقولنَا مَا لم يعلم من أَيْن أخذناه

“Tidak halal bagi seseorang mengambil pendapat kami selama dia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.”[4]

Abu Yusuf dan Abu Hanifah memberikan teladan yang sangat berharga kepada kita, sebelum kita mengambil pendapat atau perkataan mereka, maka haruslah kita melihat dahulu darimana pendapat itu bersumber? Apakah ucapan dan pendapat mereka merupakan hasil kesimpulan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah ataukah hanya merupakan pendapat belaka? Karena itulah para ulama’ mengharamkan siapapun untuk mengambil perkataannya sebelum mengetahui sandarannya.

Hal ini di karenakan mustahil dalam diri seseorang menguasai Islam secara kesuluruhan, apa yang di ketahui Imam Ahmad belum tentu di ketahui oleh Imam Syafi’i, begitu pula sebaliknya. Hadits-hadits Rasulullah yang tersebar keseluruh penjuru dunia dengan menyebarnya para pembawa panji dakwa Rasulullah, sangat mustahil diketahui seluruhnya oleh seseorang. Karena itulah para Imam Madzhab memberikan sebuah kaidah yang wajib di pegang oleh para pengikutnya :

إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي

“Jika Hadis itu shahih maka dialah madzhabku.”[5]

Sehingga madzhab para ulama’ adalah hadits Shahih, bukan sekedar pendapat mereka.

Imam Syafi’i berkata :

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُوْلِ اللَّهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Umat Islam telah bersepakat bahwa barang siapa yang telah jelas baginya sunnah dari Rasulullah, tidak halal baginya untuk meninggalkannya demi pendapat seseorang.”[6]

كُلُّ مَسْأَلَةٍ تَكَلَّمْتُ فِيهَا صَحَّ الْخَبَرُ فِيهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخَلَافِ مَا قُلْتُ فَأَنَا رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي

“Setiap masalah yang telah aku bicarakan, namun ternyata ada hadis shahih menurut ahli hadis yang bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku rujuk darinya baik ketika aku masih hidup maupun setelah kematianku.”[7]

Imam Ahmad berkata :

لَا تُقَلِّدْنِيْ، وَلَا تُقَلِّدْ مَالِكاً، وَلَا الثَّوْرِيَّ، وَلَا الْأَوْزَاعِي، وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا.

“Janganlah kamu taqlid kepadaku, dan jangan pula taqlid kepada Malik, Ats-Tsauri maupun Al-Auza’i, dan ambillah darimana mereka mengambil.”[8]

مِنْ قِلَّةِ فِقْهِ الرَّجُلِ أَنْ يُقَلِّدُ دِيْنَهُ الرَّجُلَ.

“Termasuk tanda dangkalnya fiqih seseorang adalah jika dia taqlid kepada seseorang dalam beragama.”[9]

Ini adalah sirah para Salaf, karena sesungguhnya kebenaran itu bukan karena orang, namun kebenaran adalah yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Maka sungguh mengherankan sebagian kalangan mendudukkan fatwa maupun madzhab ulama’ diatas Al-Qur’an dan As-Sunnah, seakan perkataan para ulama’ itu lebih benar dan lebih sesuai dengan kondisi mereka, dan negara mereka. Kalian lihat seseorang yang fanatik terhadap sebuah madzhab akan menolak dalil dan enggan mengamalkannya karena bertentangan dengan madzhab imam tersebut, yang aneh lagi adalah sebagian masyarakat lebih memilih untuk meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah daripada harus meninggalkan adat mereka, ajaran nenek moyang seakan menjadi ajaran agama yang diwarisi turun temurun yang haram untuk di tinggalkan.

Jika di jawa, masyarakat rutin mengadakan kenduri arwah untuk mengenang kematian seseorang, namun kenyataannya agama Islam tidak pernah mengajarkan ritual ini, dan tidak ada satu hadits walaupun itu palsu yang mengajarkan hal seperti ini. Sungguh mereka mengikuti sesuatu tanpa ilmu, walaupun mereka mengetahui bahwa nenek moyang mereka tidaklah berilmu.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَايَهۡتَدُونَ ١٧٠

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS. Al-Baqarah: 170)

Kita tinggalkan masyarakat tradisional dengan segala kebid’ahannya, karena telah banyak kalangan ulama’ yang peduli terhadap kemurnian Islam membantah dan menjelaskan secara gamblang penyimpangan mereka. Namun yang menjadi fokus kita sekarang adalah fatwa dan pendapat ahli Ilmu kontemporer tentang peristiwa yang sedang terjadi dan sedang menimpa umat Islam terutama di Timur Tengah, khususnya umat Islam yang berada di bumi Irak dan Syam.

Pertempuran dan pembantaian terus terjadi, dan lagi-lagi yang di korbankan adalah umat Islam, sudah tidak terhitung berapa jumlah korban meninggal sejak invasi salibis Amerika ke Irak hingga saat ini. Di tambah kekejian rezim Bashar Assad seorang pemimpin penganut sekte Syi’ah Nushairiyah, telah merenggut banyak korban jiwa dari umat Islam, baik dengan bom barel, gas sarin maupun rudal-rudal yang di muntahkan dari jet-jet tempur Suriah maupun Rusia. Semakin hari semakin banyak janda, yatim dan mereka yang kehilangan tempat tinggal.

Alih-alih menumbangkan rezim Bashar Assad, negara-negara Arab yang menjadi harapan bagi umat Islam justru memperkeruh suasana dengan menjawab seruan AS untuk berkoalisi di bawah syiar “Perang melawan Terorisme”.

Tentu saja semua tahu, definisi terorisme telah di persempit hanya untuk masyarakat tertentu dengan kepercayaan tertentu. Hal ini terbukti telah menjadi kesepatakan bersama negara-negara anggota PBB (Persatuan Bangsat-Bangsat), dan menyatukan pandangan bahwa aksi-aksi terorisme itu jika di lakukan oleh umat Islam. Kita bisa melihat reaksi si munafik Erdogan ketika para milisi Kurdi mengirim bom-bom mobil dan terus merenggut korban jiwa dari rakyat Turki, dia memohon kepada PBB untuk memperluas definisi terorisme, sehingga Kurdi bisa termasuk dalam kelompok teroris yang harus di perangi.

AS menginvasi Irak, mengirim ratusan ribu pasukan dan puluhan pesawat Tempurnya untuk membentuk sebuah negara yang tunduk kepada aturan AS, setelah jatuhnya rezim Saddam maka terbentuklah pemerintahan boneka di bawah kepemimpinan Nuri Al-Maliki seorang penganut sekte kafir Syi’ah Rafidhah. Sejak saat itu terjadi genosida; dimana suku-suku Sunni mengalami penindasan, bermacam-macam siksaan hingga pemerkosaan dan puncaknya adalah pembunuhan setiap hari di rasakan umat Islam.

Alih-alih membantu umat Islam melawan penindasan, negara-negara teluk dan Arab munafik itu malah berkoalisi dengan salibis AS, Inggris maupun Prancis untuk memerangi umat Islam di Irak dan Suriah. Selama hampir sepuluh tahun umat Islam Irak di tindas, tidak ada satupun peluru dari Arab Saudi yang membantu umat Islam melawan penjajah. Tidak satupun pesawat tempur Arab Saudi memuntahkan satu rudal kebasis-basis Zionis IsraHell yang menjajah Palestina. Dengan slogan perang melawan teroris, Arab Saudi menceburkan diri kedalam kubangan darah umat Islam.

Setelah bergabungnya Saudi kedalam ring pertempuran salibis melawan umat Islam yang telah menyandang gelar teroris dari AS, maka muncullah fatwa-fatwa bayaran, khutbah-khutbah bertebaran di mimbar-mimbar suci masjid Ahlussunnah. Melabrak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah; seakan ayat larangan menjadikan kaum kafirin menjadi pemimpin bisa di batalkan dengan kepentingan Saudi, dan pihak yang tidak setuju akan mendapat gelar anjing neraka, khawarij dan seterusnya.

Ketahuilah wahai umat Islam, AGAMA ITU ADALAH ISLAM, dan ISLAM ITU AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH, selain itu maka hingga kiamat tegak tidak akan menjadi bagian dari Islam. Ukurlah fatwa-fatwa itu dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, ketika seorang alim berfatwa tentang bolehnya sebuah negara bergabung dengan AS untuk memerangi umat Islam, maka timbanglah fatwa dia, jika benar maka terimalah, namun jika salah maka tinggalkanlah, dan jika engkau mempunyai kemampuan maka jawablah dengan kebenaran. Bukankah Tuhanmu telah berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

Timbanglah ucapan maupun fatwa Syaikh kalian dengan kedua sumber diatas, karena inilah manhaj salaf. Jika para Imam madzhab melarang pengikutnya mengambil pendapatnya sebelum mengetahui  dari mana dia menyandarkan pendapatnya, lalu bagaimana dengan ulama’ kita saat ini?! Apakah haram bagi kita menimbang fatwa mereka? Apakah wajib bagi kita menerima tanpa boleh menimbangnya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah? Jika engkau menjawab: “itu berarti kamu meragukan keilmuannya, dan menganggap dirimu lebih faqih daripada para ulama’. Maka aku jawab: “Aku hanya mengikuti apa yang di perintahkan oleh Allah dalam firmanNya, jika terjadi perselisihan maka kembalikan kepada Allah dan RasulNya.” Dan “Aku bukanlah orang yang taqlid buta, wajib bagiku untuk menimbang setiap perkataan manusia dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Simaklah perkataan para Imam :

Ibnu Abbas berkata :

: “يُوْشِكُ أَنْ تَنَزَّلَ عَلَيْكُمْ حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ، أَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرَ”

Hampir-hampir saja kalian akan di hujani batu dari langit, aku berkata: “Rasulullah bersabda” namun kalian (bantah) berkata: “Abu Bakar dan Umar berkata (demikian).”

Siapakah yang lebih berhak untuk di ikuti? Perintah Rasul atau Abu Bakar dan Umar? Padahal seluruh manusia mengetahui bahwa mereka berdua adalah lebih mengetahui dari pada Ibnu Umar maupun Ibnu Abbas, jika ucapan Abu Bakar dan Umar saja harus diukur dan di timbang dengan sabda Rasulullah maka siapakah Syaikh dan Ulama’ kita, sehingga kita wajib menerima seluruh fatwa dan ucapannya?

Jika ulama’ kalian berkata kebolehan berkoalisi dengan salibis untuk memerangi umat Islam, maka timbanglah dengan firman Allah, berikut :

تَرَىٰ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ يَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ أَن سَخِطَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَفِي ٱلۡعَذَابِ هُمۡ خَٰلِدُونَ ٨٠ وَلَوۡ كَانُواْ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِيِّ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَا ٱتَّخَذُوهُمۡ أَوۡلِيَآءَ وَلَٰكِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ٨١

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah: 80-81)

Kalimat bersyarat : “Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi),” menunjukkan bahwa iman yang di sebutkan tersebut menafikan manjadikan mereka (musyrikin) sebagai penolong.

Perkara yang wajib bagi umat Islam adalah memusuhi, memerangi dan menjadikan mereka musuh, bukan sebaliknya. Syaikh Hamd bin ‘Atiq berkata: “Adapun memusuhi kuffar dan musyrikin maka ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan hal itu, dan menguatkan kewajibannya, serta mengharamkan muwalah (menjadikan mereka penolong) dan mengharamkannya dengan keras, sampai-sampai di dalam Kitabullah tidak ada hukum yang lebih banyak dan lebih jelas setelah kewajiban bertauhid daripada hukum ini (memusuhi kuffar dan musyrikin), serta haramnya muwalah kuffar.”[10]

Masuk kedalam koalisi berkonskwensi mengikuti segala perintah dan larangan yang mereka buat, dan hal ini masuk kedalam bab taat kepada kuffar dan musyrikin yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ يَرُدُّوكُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡ كَٰفِرِينَ ١٠٠

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100)

Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahab berkata dalam tafsir ayat ini: “Allah Ta’ala mengkhabarkan bahwa jika orang-orang beriman mana’ati kuffar maka mengharuskan mengeluarkan mereka dari Islam, karena mereka tidak akan puas kecuali dengan kekafirn, dan Dia mengkhabarkan bahwa jika mereka melakukan hal itu maka mereka akan merugi di dunia dan Akhirat, dan ketakutan terhadap mereka (kuffar) tidak menjadi rukhshah yang membolehkan tunduk dan taat kepada mereka.”[11]

Jika Syaikh kalian berfatwa bolehnya berkoalisi dengan AS untuk memerangi kaum Muslimin, maka bandingkan dengan firman Allah berikut wahai orang yang berakal!

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Menolong musyrikin dan kafirin untuk memerangi kaum muslimin adalah salah satu bentuk kemunafikan, dan boleh bagi kita untuk menyebut pelakunya sebagai munafik. Allah berfirman:

 بَشِّرِ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ بِأَنَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمًا ١٣٨  ٱلَّذِينَ يَتَّخِذُونَ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَيَبۡتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلۡعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلۡعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعٗا ١٣٩

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa’: 138-139)

فَتَرَى ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يُسَٰرِعُونَ فِيهِمۡ يَقُولُونَ نَخۡشَىٰٓ أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٞۚ فَعَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَ بِٱلۡفَتۡحِ أَوۡ أَمۡرٖ مِّنۡ عِندِهِۦ فَيُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَآ أَسَرُّواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ نَٰدِمِينَ ٥٢

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. (QS. Al-Maidah: 52)

Ibnu Jarir berkata dalam tafsir ayat ini : “Ini adalah kabar tentang manusia dari golongan munafikin yang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin, menipu kaum mukminin, sedangkan mereka barkata: “Kami takut jika Yahudi dan Nasrani memiliki kuasa atas kami.”[13]

Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab ketika ditanya tentang orang dari kalangan pengklaim Islam yang menampakkan tanda-tanda kemunafikan, apakah boleh di sebut sebagai munafik atau tidak?

Beliau menjawab : Barangsiapa yang nampak darinya tanda-tanda kemunafikan ketika terjadi perpecahan atas kaum mukminin dan menghinakan kaum mukiminin ketika para musuh it bersatu, seperti orang yang berkata: Sekiranya kami tahu peperangan, niscaya kami akan mengikuti kalian, begitu pula keadaan orang yang seandainya kaum musyrikin mendapat kemenangan dia membelot kepada mereka, memuji kaum musyrikin dalam beberapa kesempatan, menjadikan mereka penolong selain orang beriman, dan tanda-tanda lainnya yang telah di sebutkan oleh Allah sebagai tanda-tanda kemunafikan, dan sifat-sifat orang munafikin, maka boleh menyebutkan secara mutlak sebagai munafik.”[14]

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz berkata: “Sungguh ulama’ Islam telah bersepakat bahwa siapa yang menolong kuffar atas kaum muslimin dan membantnya  dengan bentuk bantuan apa saja maka dia kafir seperti mereka, sebagaimana firman Allah :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Maidah: 51)[15]

Maka manhaj Salaf adalah mengembalikan perselisihan dan perbedaan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagai pengamalan firman Allah, bukan mengembalikan kepada fatwa dan pendapat, karena fatwa itu dapat berubah tergantung tempat, waktu dan penanya, dan setiap kepala mempunyai pendapat masing-masing, sehingga tidak akan selesai perselisihan jika harus di kembalikan kepada manusia, yang tetap sejak dulu hingga akhir zaman adalah Nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka mari kita kembalikan perselisihan kepada keduanya jika memang kita adalah orang yang beriman.

Allahu A’lam.

Oleh : Abu Zakir

Footnote :

[1] Kasyfu Maa Al-Qahu Iblis minal Bahraj wa At-Talbis ‘ala Qalbi Daud bin Jarjis (1/248). Ucapan ini juga di sandarkan kepada Al-Imam Al-Malik Rahimahullah, dan di shahihkan oleh Ibnu Abdil Hadi dalam Irsyad As-Salik. Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ dan Ibnu Hazm dalam Ushul Al-Ahkam meriwayatkan ucapan ini pula.

[2] Al-Bayan wal Isyhar li Kasyfi Zaighil Mulhid Al-Haaj Mukhtar (1/253).

[3] Al-Mustakhraj ‘alal Mustadrak Lil Hakim (1/15).

[4] Irsyadun Nuqad ila Taisiril Ijtihad (1/145 & 148), Iqazhul Humam Ulil Abshar (1/53).

[5] Fathul Bari (2/223), Umdatul Qari (5/227 & 303), Syarh Sunan Ibnu Majah Lis Suyuthi wa Ghairihi (1/50).

[6] Ar-Ruh (1/264), Tajridul I’tiqad ‘an Adranil Ilhad (1/99), Adh-Diya’ Asy-Syariq fi Radd Syubuhatil Madziq Al-Mariq (1/172). Dengan lafazh yang sedikit berbeda.

[7] Dzammul Kalam wa Ahlihi (3/17), Ma’arijul Qabul bi Syarh Sullamil Wushul (3/1239) dan Al-Wajiz fi Aqidati As-Salaf Ash-Shalih Ahlisunnah wal Jama’ah (1/155).

[8] Ghayatul Amani fi Radd ‘ala An-Nabhani (1/98), dan Al-Bayan wa Al-Isyhar li Kasyfi Zaighil Mulhid Al-Haji Mukhtar (1/34).

[9] Ghayatul Amani fi Radd ‘ala An-Nabhani (1/98).

[10] An-Najah wal Fukak min Muwalati Al-Murtadin wa Ahli Al-Isyrak hal.363.

[11] Ad-Dala’il fi Hukmi Muwalati Ahlil Isyrak, hal.33.

[13] Tafsir Ath-Thabar, 6/161.

[14] Ad-Durar As-Saniyah, 7/79 dan 80.

[15] Fatawa Bin Baaz 1/274.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s